Asia Mundur dari Rekor, PCE AS Jadi Fokus Berikutnya
Saham Asia melemah dari level rekor setelah sinyal yang saling bertentangan dari AS dan Iran mengurangi keyakinan pasar terhadap kesepakatan cepat untuk mengakhiri perang. Ukuran saham Asia Pasifik MSCI turun 0,2%, memutus reli lima hari yang sebelumnya ditopang lonjakan saham teknologi.
Di pasar energi, minyak berbalik menguat. Brent naik 2,2% ke US$96,30 per barel karena belum adanya kesepakatan membuat Selat Hormuz tetap tertutup dan mengganggu arus minyak serta gas. Kondisi ini memperlihatkan pasar kembali memasukkan premi risiko pasokan setelah narasi diplomasi tidak konsisten.
Sentimen yang memburuk ikut mendorong dolar menguat dan menekan obligasi. Treasury AS melemah dengan yield acuan 10 tahun naik 2 bps ke 4,50%, sementara obligasi Australia dan Selandia Baru juga turun. Pergeseran ini menegaskan kekhawatiran inflasi berbasis energi masih menahan minat terhadap durasi obligasi, meski tema AI tetap menopang ekuitas global dalam beberapa sesi terakhir.
Di AS, futures indeks saham memangkas kenaikan setelah serangan AS terbaru di Iran, sementara Gedung Putih menepis laporan media Iran yang menyiratkan negosiasi damai bergerak maju. Presiden Donald Trump mengatakan ia “tidak puas” dengan negosiasi, sekaligus menegaskan tidak ada satu negara pun yang akan mengendalikan Selat Hormuz isu yang menjadi titik krusial dalam pembicaraan ketika konflik memasuki bulan keempat. Menlu AS Marco Rubio menambahkan pasar akan melihat dalam beberapa jam dan hari ke depan apakah progres bisa dicapai.
Wall Street menutup sesi Rabu relatif datar, dengan investor mengambil untung pada saham teknologi namun tetap memegang optimisme bahwa akhir perang di Timur Tengah bisa mendekat. Di sisi strategi, beberapa rumah besar tetap bullish: Goldman Sachs menaikkan target akhir tahun S&P 500 ke 8.000 dari 7.600, dan menyebut musim laporan kuartal pertama sangat kuat; Morgan Stanley dan Deutsche Bank juga memproyeksikan 8.000.
Tema teknologi tetap ramai, dengan hasil yang campuran. Salesforce memberi panduan yang dianggap kurang menggigit, HP menyampaikan outlook laba yang belum meredakan kekhawatiran biaya chip, sementara Snowflake melonjak hampir 30% dalam perdagangan setelah jam bursa berkat outlook tahunan yang lebih kuat. Marvell juga merilis proyeksi kuartalan di atas estimasi.
Fokus pasar kini mengarah ke rilis PCE April pada Kamis indikator inflasi favorit The Fed setelah PCE Maret tercatat 3,5% YoY dan ekspektasi mengarah ke 3,8% pada April. Pejabat The Fed memberi sinyal yang berbeda: Philip Jefferson memperkirakan inflasi mendingin pada paruh kedua tahun ini, namun menilai risikonya masih condong ke atas; Lisa Cook bahkan mengatakan inflasi bergerak ke arah yang salah dan siap mendukung kenaikan suku bunga jika tren itu berlanjut.
Di pembukaan Asia, indikator regional bergerak hati-hati: S&P 500 futures nyaris datar, Hang Seng futures stabil, Topix Jepang turun 0,3%, ASX 200 Australia turun 0,8%, dan Euro Stoxx 50 futures turun 0,4%. Dengan kombinasi geopolitik, energi, dan inflasi yang masih “aktif”, pasar berpotensi tetap headline-driven hingga ada kejelasan soal Hormuz dan arah data PCE.(ayu)
Sumber: Newsmaker.id