Pound Jatuh ke Level Terendah Sejak Mei, Ini Biang Keroknya!
Pound Inggris melemah pada Senin (08/06) dan diperdagangkan di dekat level US$1,33, posisi terendah sejak 15 Mei, seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang kembali menekan sentimen pasar global. Kekhawatiran terhadap konflik Iran yang berkepanjangan membuat investor lebih berhati-hati terhadap prospek ekonomi Inggris, terutama setelah harga minyak bergerak naik tajam. Kondisi ini menambah tekanan terhadap pound karena pasar melihat risiko inflasi kembali meningkat, sementara prospek pertumbuhan ekonomi berpotensi melemah.
Tekanan utama datang dari lonjakan harga minyak Brent yang naik lebih dari 4% setelah Iran dan Israel kembali saling melancarkan serangan rudal. Meski Presiden Donald Trump menyerukan kedua pihak untuk menghentikan permusuhan dan kembali ke jalur perundingan damai, pasar masih menilai situasi geopolitik tetap rapuh. Kenaikan harga minyak menjadi perhatian besar karena dapat mendorong biaya energi lebih tinggi, memperberat tekanan harga, dan mengganggu daya beli masyarakat maupun aktivitas bisnis.
Di tengah kondisi tersebut, ekspektasi pasar terhadap kebijakan Bank of England ikut berubah. Pelaku pasar kini sepenuhnya memperkirakan adanya dua kali kenaikan suku bunga BOE pada tahun ini untuk merespons risiko inflasi. Namun, pandangan tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan suara dari internal bank sentral. Anggota MPC yang cenderung dovish, Alan Taylor, menilai bahwa suku bunga saat ini sudah berada di level yang cukup ketat dan tidak melihat kebutuhan untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut hanya karena tekanan inflasi yang berasal dari konflik Iran.
Selain faktor geopolitik dan minyak, data tenaga kerja Inggris juga menambah tekanan terhadap pound. Laporan REC/KPMG menunjukkan penempatan pekerja tetap turun paling tajam dalam 10 bulan pada Mei, dengan perusahaan menyebut rendahnya kepercayaan dan kenaikan biaya sebagai alasan utama. Kondisi ini memberi sinyal bahwa pasar tenaga kerja Inggris mulai melemah menjelang pertemuan BOE berikutnya. Ke depan, investor akan mencermati arah harga minyak, perkembangan konflik Timur Tengah, serta sinyal kebijakan BOE untuk menentukan arah pergerakan pound selanjutnya. (asd)
Sumber: Newsmaker.id