Euro Tahan Tekanan, Menanti Sinyal Besar dari The Fed
Pasangan mata uang EUR/USD bergerak stabil setelah empat hari mengalami penurunan tipis. Pada perdagangan Asia hari Selasa(30/12), euro diperdagangkan di sekitar level 1,1770. Pergerakan yang relatif tenang ini terjadi karena dolar AS bergerak terbatas, seiring sikap hati-hati pasar menjelang rilis Risalah Rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Desember yang dinilai penting untuk membaca arah kebijakan The Fed ke depan.
Euro berpeluang menguat jika dolar AS kembali tertekan oleh ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve pada 2026. Berdasarkan CME FedWatch, peluang suku bunga ditahan pada pertemuan Januari mencapai 83,9%, sementara kemungkinan penurunan suku bunga 25 basis poin semakin mengecil. The Fed sendiri telah memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember, melanjutkan total pemangkasan 75 basis poin sepanjang 2025 di tengah pasar tenaga kerja yang melambat dan inflasi yang masih bertahan.
Namun, pergerakan euro tidak sepenuhnya lepas dari risiko. Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah Rusia mengisyaratkan perubahan sikap negosiasi terkait Ukraina, menyusul dugaan serangan terhadap kediaman Presiden Vladimir Putin. Situasi ini mendorong sikap hati-hati investor dan dapat membatasi minat terhadap aset berisiko, termasuk euro.
Di sisi lain, pelemahan euro diperkirakan tetap terbatas karena perbedaan arah kebijakan antara Bank Sentral Eropa (ECB) dan The Fed. ECB mempertahankan suku bunga pada Desember dan memberi sinyal suku bunga akan tetap stabil untuk sementara waktu. Presiden ECB Christine Lagarde menegaskan tingginya ketidakpastian membuat bank sentral sulit memberi panduan jelas, yang pada akhirnya membantu euro tetap bertahan di tengah tekanan global. (az)
Sumber: Newsmaker.id