Fed Lebih Dovish, AUD Unggul
AMP Ltd. menilai selisih suku bunga Australia–AS akan berbalik positif dalam beberapa bulan ke depan. Artinya, aset berdenominasi AUD bisa jadi lebih menarik dan mendorong dolar Australia menguat. Shane Oliver, Kepala Ekonom AMP, melihat AUD berpeluang ke US$0,70 pada paruh pertama 2026 jika RBA tetap menahan suku bunga saat The Fed lanjut melonggarkan. Pagi ini, AUD berada di sekitar US$0,6585.
Pasar swap O/N memprice-in pemotongan 85 bps The Fed hingga Juni tahun depan, sedangkan RBA hanya 30 bps pada periode yang sama. Saat ini, suku bunga acuan Fed 4,00%–4,25%, sedangkan RBA 3,60%. Indeks Spot Dolar Bloomberg pekan lalu juga mencatat pelemahan mingguan terbesar dalam hampir dua bulan karena shutdown AS menunda rilis data ketenagakerjaan dan menyulitkan The Fed membaca arah ekonomi.
Menurut Oliver, shutdown dan kekosongan data bisa menekan dolar AS—apalagi jika berujung PHK dan persepsi menurunnya kualitas kebijakan fiskal/moneter. Di sisi Australia, Gubernur RBA Michele Bullock memberi sinyal bersabar terhadap pemotongan lanjutan pada 30 September, merujuk belanja rumah tangga yang lebih kuat dari perkiraan, didorong kenaikan pendapatan riil dan pasar kerja yang ketat.
Ke depan, kunci AUD ada pada arah selisih suku bunga (RBA vs Fed), durasi shutdown AS, dan data domestik. Jika The Fed lebih agresif memangkas sementara RBA menahan, premium AUD atas USD menguat—memberi ruang kenaikan bertahap. Risiko tetap ada: permintaan Tiongkok dan harga komoditas yang melemah bisa membatasi laju.(asd)
Sumber: Newsmaker.id