Perak Drop Tajam, Profit-Taking Jadi Bahan Bakar
Harga perak (XAG/USD) turun tajam pada Jumat (5/6) dan diperdagangkan di sekitar US$68,90 per ons, turun sekitar 6,7%. Tekanan jual menguat setelah data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan mendorong dolar menguat dan membuat pasar kembali menilai The Fed berpotensi mempertahankan kebijakan yang lebih ketat lebih lama.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan Nonfarm Payrolls (NFP) naik 172 ribu pada Mei, dengan angka April direvisi naik menjadi 179 ribu. Pasar sebelumnya hanya memperkirakan 85 ribu pekerjaan baru. Tingkat pengangguran tetap 4,3%, sementara pertumbuhan upah tahunan (Average Hourly Earnings) melambat ke 3,4% dari 3,6%.
Kombinasi pasar kerja yang tetap kuat dan tekanan upah yang sedikit mereda membuat investor menyesuaikan ekspektasi kebijakan moneter. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga 25 bps pada September naik menjadi sekitar 32% (dari 23% sehari sebelumnya), sementara skenario kenaikan setidaknya sekali hingga Desember juga menguat dengan peluang sekitar 43%.
Dolar AS ikut terdorong, dengan DXY naik kembali menuju area 99,80. Penguatan dolar biasanya menjadi beban bagi logam mulia berdenominasi USD karena membuatnya lebih mahal bagi pembeli non-USD, sehingga menekan permintaan.
Di sisi lain, pelaku pasar tetap memantau perkembangan geopolitik Timur Tengah yang biasanya menjaga sebagian permintaan lindung nilai pada logam mulia. Namun pada sesi ini, dampak data tenaga kerja AS dan pergeseran ekspektasi suku bunga menjadi faktor dominan.
Penurunan perak juga terjadi setelah fase kenaikan yang membawa harga mendekati level tinggi multi-tahun, sehingga memicu aksi ambil untung yang lebih agresif ketika dolar berbalik menguat. Dengan volatilitas meningkat menjelang akhir pekan, arah perak kini akan sangat sensitif pada pergerakan dolar-yield dan apakah pasar kembali menambah taruhan pengetatan The Fed.(Arl)
Sumber : Newsmaker.id