Investor Optimistis, Perak Rebound
Harga perak menguat di atas $78 per ounce saat sesi Eropa (25/5), seiring pulihnya logam putih dari tekanan minggu lalu setelah meningkatnya optimisme soal kemungkinan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Spot silver diperdagangkan di kisaran sekitar $77,8–$78,5 per ounce setelah naik kuat dari level terendah, mencerminkan sentimen pasar yang membaik terhadap risiko inflasi.
Investor makin percaya bahwa negosiasi dapat menghasilkan kesepakatan yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, penghentian permusuhan, dan pembebasan sebagian aset Iran yang dibekukan — langkah yang bisa meredakan kekhawatiran tentang gejolak energi dan tekanan harga global. Namun, blokade Selat Hormuz belum dicabut hingga persetujuan formal tercapai, sehingga sentimen pasar masih hati‑hati.
Meski rebound, silver tetap sekitar 17% lebih rendah sejak konflik Timur Tengah dimulai, karena kekhawatiran bahwa guncangan energi dapat memicu gelombang inflasi dan mendorong bank sentral mempertahankan atau memperketat kebijakan moneter. Ekspektasi kenaikan suku bunga masih kuat di pasar karena data inflasi dan harga energi yang tetap tinggi.
Dalam dinamika kebijakan moneter, anggota Federal Reserve seperti Governor Christopher Waller mengisyaratkan bahwa bank sentral mungkin harus melepas easing bias dalam panduan kebijakan — sinyal bahwa kesempatan pemangkasan suku bunga semakin kecil dan peluang kenaikan bisa tetap relevan jika inflasi bertahan tinggi.
Sentimen pasar kini tetap terfokus pada dua faktor utama: perkembangan negosiasi AS‑Iran yang bisa memulihkan aliran energi global dan arah kebijakan suku bunga di AS yang sangat dipengaruhi oleh risiko inflasi. Kedua hal ini akan menentukan apakah silver dapat mempertahankan momentum kenaikannya atau kembali mengalami tekanan dalam sesi mendatang. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id