Perak Reli, Permintaan China Angkat Sentimen
Harga perak spot (XAG/USD) menguat pada hari Rabu (13/5), dengan berada di sekitar US$88,96/ons atau naik 2,91% pada pembaruan terbaru, meski dolar dan imbal hasil AS cenderung naik..
Dari sisi fundamental, tekanan inflasi AS yang kembali mengeras memperkuat narasi suku bunga tinggi lebih lama. CPI April naik 3,8% yoy dengan core 2,8%, sementara PPI April melonjak 6,0% yoy (core 5,2%)—kombinasi yang mendorong repricing ekspektasi kebijakan dan menahan minat pada aset non-yielding.
Kenaikan inflasi juga ditopang kanal energi, dengan harga minyak yang masih tinggi menjaga risiko inflasi berbasis biaya. Pada Rabu, Brent sekitar US$107,62/barel dan WTI sekitar US$103,09/barel, menjaga pasar sensitif pada isu pasokan dan pengiriman energi terkait Selat Hormuz.
Meski lingkungan dolar-yield kurang bersahabat, perak tetap menunjukkan ketahanan berkat dukungan permintaan fisik Asia. Dalam catatan TD Securities (sesuai materi), premi perak di China yang bertahan tinggi serta aktivitas pembelian di Shanghai Futures Exchange disebut menjadi penopang, termasuk saat peluang arbitrase impor beberapa kali terbuka dalam beberapa pekan terakhir.
Ke depan, arah perak akan banyak ditentukan oleh tiga variabel: seberapa jauh yield dan dolar bertahan setelah CPI/PPI, perkembangan risiko energi dari Hormuz, serta sinyal pasar suku bunga. Sejumlah pembacaan CME FedWatch yang dikutip media juga mengindikasikan pasar makin konservatif terhadap peluang pelonggaran, dengan peluang kenaikan suku bunga pada 2027 dinilai meningkat.(arl)
Sumber: Newsmaker.id