Emas Terhimpit Dolar dan Yield
Emas melemah pada hari kedua setelah inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan mengangkat peluang Federal Reserve menaikkan suku bunga tahun ini. Harga emas batangan ditawarkan sekitar US$4.695/oz.
Penurunan berlanjut setelah emas sempat terkoreksi 0,4% pada hari Selasa. Data menunjukkan CPI AS April melonjak paling tinggi sejak 2023, sementara upah riil (setelah inflasi) turun untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
Penetapan harga pasar suku bunga juga semakin tegas. Kontrak overnight-indexed swaps kini mematok peluang lebih dari 40% kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir tahun, naik dari hampir nol pada akhir bulan lalu.
Kenaikan ekspektasi suku bunga ikut mendorong imbal hasil obligasi AS naik, ketika investor meminta kompensasi lebih besar di tengah tekanan inflasi yang dinilai masih “lengket” karena harga energi tinggi. Dalam kondisi seperti ini, emas biasanya tertekan karena tidak memberikan imbal hasil bunga.
Meski demikian, JPMorgan menilai hubungan emas dan suku bunga cenderung “asimetris”: emas kerap bertahan saat suku bunga naik, namun lebih mudah menguat ketika hasil turun. Menurut JPMorgan, faktor penopang utama berasal dari permintaan, terutama pembelian kuat oleh bank sentral, yang membantu emas tetap tangguh.
Dari sisi kebijakan domestik di Asia, India menaikkan bea masuk emas dan perak ke sekitar 15% dari 6%, langkah yang disebut terkait upaya mempertahankan mata uang dan memperkuat cadangan devisa. Pada perdagangan terakhir, spot emas turun 0,4% ke US$4.695,18/oz, perak relatif stabil di US$86,47 (naik 17% sepanjang Mei), sementara indeks dolar Bloomberg naik tipis 0,1% setelah menguat 0,3% pada sesi sebelumnya.
5 poin inti:
- Emas turun hari kedua menjadi sekitar US$4.695/oz.
- CPI AS April melonjak paling tinggi sejak 2023; upah asli turun pertama kali dalam tiga tahun.
- Pasar mematok >40% peluang kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir tahun.
- Hasil AS naik; suku bunga lebih tinggi umumnya menekan emas karena tidak memberi hasil.
- JPMorgan: permintaan, khususnya pembelian bank sentral, membuat emas tetap relatif tangguh; India menaikkan tarif impor emas/perak ke -15% dari 6%.(asd)
Sumber: Newsmaker.id