Perak Rebound di Atas $74,2 saat Sinyal De-eskalasi Tekan Minyak
Harga perak menguat dan kembali diperdagangkan di atas $74,2 per ons pada Rabu (06/05), setelah sempat melemah di awal pekan. Pemulihan ini terjadi seiring turunnya harga minyak setelah muncul sinyal de-eskalasi di Timur Tengah, yang membantu meredakan kekhawatiran inflasi dan memberi dukungan jangka pendek bagi logam mulia.
Dari sisi geopolitik, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengatakan gencatan senjata yang terbentuk hampir sebulan lalu masih berlaku. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyatakan operasi ofensif telah berakhir, seiring Washington mengalihkan fokus untuk mengamankan rute pelayaran di Selat Hormuz. Pernyataan tersebut mengurangi persepsi pasar terhadap risiko gangguan pasokan energi dalam waktu dekat.
Presiden Donald Trump juga mengumumkan jeda sementara dalam upaya yang dipimpin AS untuk membantu kapal-kapal yang terdampar keluar dari Selat Hormuz, guna memberi waktu menilai kemungkinan kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri konflik. Namun Trump menegaskan blokade terhadap kapal yang bepergian ke dan dari pelabuhan Iran tetap berlaku, sehingga risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang.
Dalam beberapa pekan terakhir, perak cenderung tertekan ketika biaya energi melonjak. Kenaikan minyak biasanya menambah tekanan inflasi, yang pada gilirannya dapat memperkuat ekspektasi suku bunga bertahan tinggi lebih lama atau bahkan mengarah lebih ketat. Kondisi itu umumnya menjadi beban bagi aset yang sensitif terhadap suku bunga, termasuk logam mulia.
Ketika minyak melemah dan kekhawatiran inflasi mereda, tekanan tersebut sementara berkurang dan memberi ruang bagi perak untuk pulih. Meski begitu, arah perak masih rentan berubah jika dinamika di Selat Hormuz kembali memanas atau jika ekspektasi suku bunga bergeser. (asd)
Sumber: Newsmaker.id