Perak Dekati Rekor, CPI Jadi Kunci
Harga perak (XAG/USD) masih bertahan kuat dan bergerak stabil di dekat level tertinggi sepanjang masa. Pada sesi Eropa hari Selasa (13/1), perak diperdagangkan di kisaran $85,6–$85,8 per troy ounce, sedikit di bawah puncak rekor terbaru, karena pelaku pasar mulai menahan diri jelang rilis data inflasi AS.
Fokus utama hari ini adalah data CPI AS bulan Desember. Angka inflasi ini bakal jadi “kompas” buat pasar: kalau inflasi melandai, peluang penurunan suku bunga The Fed makin terbuka—biasanya ini menekan dolar dan membuat logam mulia seperti perak lebih gampang naik. Tapi kalau inflasi lebih panas dari perkiraan, dolar bisa menguat dan perak berisiko terkoreksi dalam jangka pendek.
Meski begitu, permintaan aset aman masih jadi bantalan. Ketegangan geopolitik kembali panas setelah Trump mengancam tarif 25% untuk negara yang masih berbisnis dengan Iran, di tengah protes besar di sana. Di saat yang sama, isu independensi The Fed juga bikin investor hati-hati, setelah muncul ancaman hukum yang menyeret Ketua Fed Jerome Powell—situasi yang membuat pasar makin sensitif terhadap risiko politik dan kebijakan.
Kesimpulannya, perak masih punya peluang melanjutkan tren naik karena sentimen safe haven masih kuat dan ekspektasi penurunan suku bunga belum hilang. Namun karena posisi harga sudah dekat rekor dan kondisi mulai “panas”, pergerakan bisa lebih liar: jika CPI mendukung, perak berpotensi coba tembus rekor lagi; jika CPI mengejutkan, koreksi bisa terjadi—dan biasanya itu yang dilihat trader sebagai momen “uji minat beli” berikutnya. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id