Perak dan Platinum Anjlok, Lanjutkan Lonjakan Besar Volatilitas
Perak dan platinum anjlok, memperpanjang periode volatilitas yang luar biasa belakangan ini, ketika para pelaku pasar menilai potensi penjualan akibat penyesuaian bobot (re-weighting) indeks, ketatnya pasokan di pasar fisik, serta kemungkinan tarif AS. Emas juga ikut melemah.
Harga spot platinum sempat merosot hingga 7,7% dan perak jatuh hingga 5,7%, meski keduanya masih mencatat kenaikan secara bulanan hingga saat ini. Perak sebelumnya sempat melesat ke rekor tertinggi di atas $84 per ons pada akhir Desember, seiring kuatnya minat investor ritel—terutama di China—yang mendorong harga dalam kondisi perdagangan tipis selama periode liburan.
Logam mulia juga mendapat dukungan tahun lalu dari turunnya suku bunga AS serta kemungkinan Federal Reserve akan melakukan pemangkasan suku bunga lanjutan. Namun, dalam jangka pendek muncul kekhawatiran bahwa penyeimbangan ulang yang luas pada indeks komoditas dapat menekan harga, karena dana pasif pelacak indeks menjual komoditas yang reli terlalu tinggi untuk menyesuaikan bobot baru.
“Kami memperkirakan aktivitas jual berskala besar akan dimulai di tengah aliran rebalancing yang signifikan dari indeks komoditas luas,” tulis Daniel Ghali, ahli strategi TD Securities, dalam sebuah catatan, seraya menambahkan bahwa perak telah mengalami pola “blow-off top yang ‘buruk” (lonjakan puncak yang ekstrem sebelum berbalik turun tajam).
Citigroup Inc. memperkirakan akan terjadi arus keluar sebesar $6,8 miliar dari kontrak berjangka emas dan jumlah yang kurang lebih sama dari perak sebagai dampak dari penyesuaian bobot dua indeks komoditas terbesar yang akan dimulai pekan ini.
Menurut catatan JPMorgan Chase & Co. tanggal 12 Desember, kedua logam tersebut pernah menghadapi aksi jual indeks serupa tahun lalu tanpa menimbulkan tekanan yang jelas pada pasar. Namun, bank itu menilai kebutuhan penjualan pada perak tahun ini jauh lebih besar.
Di pasar London—pusat perdagangan spot terbesar—pasokan perak dan platinum masih ketat setelah pengiriman ke AS tahun lalu meningkat karena kekhawatiran tarif. Biaya peminjaman untuk kedua logam ini memang sedikit turun pekan ini, tetapi tetap berada di level historis yang tinggi, karena pasokan masih “terkunci” di gudang-gudang AS.
Para trader juga masih menunggu hasil penyelidikan Section 232 dari Washington terkait impor mineral kritis, yang dapat berujung pada penerapan bea masuk (levies) atau pembatasan perdagangan.
“Sekarang terjadi kekurangan likuiditas, sehingga siapa pun yang ingin masuk ke pasar benar-benar harus membayar lebih mahal untuk itu,” kata Michael Widmer, kepala riset logam di Bank of America Corp., kepada Bloomberg Television. Ia menambahkan, meski prospek permintaan fundamental perak positif—karena banyak aplikasi industri—para spekulan telah membawa volatilitas yang berlebihan ke pasar.
Pelaku pasar juga memantau ketegangan geopolitik yang dapat meningkatkan permintaan aset lindung nilai (haven). Beberapa hari setelah penangkapan presiden Venezuela, Gedung Putih menolak mengesampingkan penggunaan kekuatan militer untuk mengakuisisi Greenland. China, sementara itu, memberlakukan kontrol ekspor ke Jepang untuk barang-barang yang memiliki potensi penggunaan militer.
Walau pandanagan geopolitik tetap rapuh, para trader mengalihkan perhatian ke padatnya agenda data ekonomi AS, termasuk laporan pekerjaan Desember yang akan dirilis Jumat. Ini menyusul indikator aktivitas manufaktur yang lebih lemah dari perkiraan, sehingga memperkuat harapan bahwa The Fed akan memangkas suku bunga lagi.
Menambah ekspektasi tersebut, Gubernur The Fed Stephen Miran mengatakan bank sentral perlu memangkas suku bunga lebih dari satu poin persentase pada 2026. Ia mengatakan kepada Fox Business Network bahwa kebijakan moneter saat ini menahan laju ekonomi. Tiga kali pemangkasan suku bunga beruntun tahun lalu menjadi angin segar bagi logam mulia, yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Emas baru saja mencatat kinerja tahunan terbaiknya sejak 1979, mencetak serangkaian rekor tertinggi tahun lalu berkat pembelian bank sentral dan arus masuk ke ETF berbasis emas batangan. Reli perak bahkan lebih spektakuler, dengan harga melonjak hampir 150% karena juga ditopang ketatnya pasokan dan kemungkinan tarif.
Pada pukul 3:07 sore waktu London, spot perak turun 4,9% menjadi $77,318 per ons. Spot emas turun 1,2% menjadi $4.441,26 per ons.
Platinum merosot 6,5% menjadi $2.288,15 per ons, sementara palladium turun 4,4%. Indeks Bloomberg Dollar Spot nyaris tidak berubah.
Sumber: Bloomberg.com