Brent Bertahan Dekat US$100, Risiko Pasokan Masih Membayangi
Harga minyak melemah pada perdagangan Jumat (24/7), tetapi masih berada di jalur kenaikan mingguan yang tajam. Brent turun US$1,12 atau 1,11% ke level US$99,55 per barel pada pukul 06.48 GMT, setelah sehari sebelumnya sempat ditutup naik 7% di atas US$100 untuk pertama kalinya sejak Mei.
Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI melemah US$1,12 atau 1,21% ke level US$91,06 per barel. Meski terkoreksi, Brent masih mengarah pada kenaikan mingguan sekitar 13%, sedangkan WTI berada di jalur penguatan mingguan sekitar 10,4%.
Tekanan pasokan masih menjadi perhatian utama pasar setelah kelompok Houthi yang berafiliasi dengan Iran mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah. Analis ING menilai risiko gangguan pasokan saat ini menjadi yang terbesar selama perang, karena aliran minyak melalui Selat Hormuz hampir mengering dan risiko terhadap pasokan Saudi dari Laut Merah semakin jelas.
Data pelacakan kapal dari Kpler menunjukkan jumlah tanker yang melintasi Selat Hormuz turun menjadi hanya satu kapal pada Kamis, terendah sejak 7 Mei. Selain itu, jalur Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia juga menjadi sorotan karena merupakan jalur minyak terpenting kedua setelah Selat Hormuz.
Risiko pasokan juga bertambah setelah Kazakhstan memangkas sementara produksi minyak akibat dugaan serangan drone Ukraina yang memaksa terminal ekspor utama di Laut Hitam ditutup. Dari sisi dampak market, minyak masih berpotensi volatil dan cenderung ditopang premi risiko geopolitik. Jika gangguan di Hormuz, Laut Merah, dan terminal Kazakhstan berlanjut, Brent berpeluang kembali menguji US$100, sementara tekanan inflasi global dapat meningkat dan membuat pasar saham serta obligasi lebih sensitif terhadap sentimen energi. (asd)*
Sumber: Newsmaker.id