Minyak Naik Tipis, Israel–Iran Tarik Rem Eskalasi
Harga minyak menguat tipis pada hari Senin (8/6) setelah Israel dan Iran memberi sinyal akan menahan eskalasi lanjutan usai sehari penuh aksi saling serang. WTI naik 0,8% dan ditutup di sekitar US$91,30/barel, sementara Brent menguat 1,3% ke US$94,25/barel. Meski sempat melonjak intraday, reli mereda ketika pasar menangkap pesan bahwa kedua pihak belum ingin memperluas konflik.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Israel “menahan tembakan” ke Iran untuk sementara, tetapi akan merespons keras jika Iran menyerang lagi. Pernyataan itu sejalan dengan nada dari media Iran yang mengisyaratkan penahanan aksi lebih lanjut. Investor menilai perkembangan ini penting karena serangan balasan beberapa hari terakhir sempat mengancam pembicaraan yang bertujuan mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump menyebut kedua negara mengarah pada gencatan senjata segera, namun menekankan kesepakatan bisa gagal bila “kebodohan atau ketidaktahuan” menghalangi. Bagi pasar, komentar seperti ini membantu meredakan “war premium”, tetapi belum cukup untuk menghapus premi risiko karena status diplomasi masih rawan berubah oleh headline berikutnya.
Menariknya, meski terjadi eskalasi, harga minyak tetap berada di bawah US$100. Ini menunjukkan pasar sejauh ini menilai dampak terburuk dari gangguan pasokan bisa dihindari, dibanding puncak konflik ketika Brent sempat mendekati US$130. Namun risiko pasokan belum hilang karena Selat Hormuz masih dalam kondisi nyaris tertutup, sehingga aliran minyak, produk BBM, dan gas ke pasar global tetap tercekik.
Di jalur lain, kelompok Houthi di Yaman menyatakan akan melarang kapal Israel di Laut Merah. Namun pelaku industri menilai dampak tambahannya terbatas karena banyak kapal memang sudah menghindari rute itu. Artinya, pasar lebih fokus pada Hormuz sebagai pusat risiko utama dibanding Laut Merah.
Dari sisi keamanan pelayaran, Komando Pusat AS menyebut mereka melumpuhkan sebuah tanker di Teluk Oman yang diduga berupaya menuju pelabuhan Iran. Kapal itu sebelumnya dilaporkan mengalami kebakaran dan disebut tidak membawa kargo. AS juga menyatakan telah mengalihkan 134 kapal sejak mulai menegakkan blokade pelabuhan Iran pada awal April, menegaskan bahwa tekanan terhadap arus fisik masih menjadi faktor besar dalam pembentukan harga.(arl)*
Sumber: Newsmaker.id