Harapan Ceasefire Dorong Sell-Off, Brent ke Terendah sejak April
Harga minyak turun sekitar 2% pada Jumat (29/5) dan menuju penurunan mingguan terdalam sejak awal April setelah laporan bahwa AS dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk memperpanjang gencatan senjata dan melonggarkan pembatasan pelayaran di Selat Hormuz. Brent kontrak Juli—yang berakhir Jumat—turun US$1,89 (-2%) ke US$91,82 per barel pada 13:09 GMT, sementara Brent kontrak Agustus turun US$1,89 (-2%) ke US$90,81. WTI melemah US$1,70 (-1,9%) ke US$87,20.
Secara mingguan, Brent turun sekitar 11%, menjadi penurunan terbesar dalam tujuh pekan, sedangkan WTI turun hampir 10%, penurunan terbesar dalam enam pekan. Keduanya menyentuh level terendah sejak pertengahan April, mencerminkan pemangkasan premi risiko setelah pasar mem-price-in peluang de-eskalasi.
Meski begitu, kesepakatan disebut belum final. Sumber Reuters menyatakan deal masih menunggu persetujuan Presiden Donald Trump, sementara media pemerintah Iran menyebut belum difinalisasi. Ketidakpastian ini menjaga perdagangan tetap volatil; kedua patokan sempat berayun hingga sekitar US$6 dalam beberapa sesi terakhir akibat sinyal yang saling bertentangan mengenai akhir perang Iran dan potensi pembukaan Hormuz.
Di pasar fisik, arus pelayaran melalui chokepoint masih jauh di bawah level pra-konflik. ING menilai pembukaan Hormuz bisa memberi bantuan cepat, namun pemulihan tetap tidak pasti. Jepang, yang sangat bergantung pada minyak Timur Tengah, mencatat penurunan impor minyak mentah 66% pada bulan lalu dibanding April tahun sebelumnya, menegaskan dampak gangguan pasokan.
Commerzbank menaikkan proyeksi Brent menjadi US$90 per barel pada akhir September dan US$85 pada akhir tahun, dengan skenario Hormuz tetap belum kembali normal selama sekitar dua bulan. Dari AS, EIA melaporkan stok minyak mentah, bensin, dan distilat turun pekan lalu seiring permintaan kilang dan konsumen meningkat, sementara ekspor turun 1,16 juta bph menjadi 4,4 juta bph, memberi bantalan pada harga meski sentimen mingguan masih condong bearish. (Arl)*
Sumber : Newsmaker.id