Harapan Deal Goyah, Minyak Berbalik Menguat 2%
Harga minyak menguat pada Kamis (28/5) setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan mereka menargetkan pangkalan udara AS sebagai respons atas serangan AS di kota pelabuhan Bandar Abbas. Perkembangan ini menghidupkan kembali premi risiko pasokan, setelah pasar sehari sebelumnya sempat memangkas premi tersebut karena harapan kesepakatan AS–Iran.
Brent naik US$1,75 (+1,86%) ke US$96,04 per barel pada 13:14 GMT, sementara kontrak Brent Agustus—yang lebih aktif—naik sekitar 2% ke US$94,06. Kontrak Brent Juli dijadwalkan jatuh tempo pada Jumat. WTI menguat US$2,08 (+2,35%) ke US$90,76.
Sehari sebelumnya, kedua patokan sempat jatuh lebih dari 5% dan menyentuh level terendah satu bulan karena pasar mem-price-in peluang deal yang akan mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz. Namun, narasi itu kembali goyah setelah Presiden Donald Trump menolak laporan bahwa kompromi dengan Teheran sudah dekat, sementara IRGC menyatakan melakukan serangan balasan usai militer AS menyerang operasi drone Iran dekat Hormuz.
Di pasar fisik, data pelacakan kapal dari LSEG dan Kpler menunjukkan dua supertanker dan satu tanker LNG keluar dari selat awal pekan ini dengan transponder dimatikan dan bergerak menuju India dan China, menandakan arus mulai muncul meski belum normal. Di sisi inventori AS, API melaporkan stok minyak mentah turun 2,8 juta barel pekan lalu—penurunan minggu keenam beruntun—yang menambah dukungan jangka pendek pada harga.
Pasar kini menunggu data resmi persediaan dari EIA yang dirilis Kamis (mundur sehari karena libur Memorial Day). Untuk arah berikutnya, fokus tetap pada dua variabel: apakah eskalasi di sekitar Hormuz berlanjut sehingga premi risiko naik lebih besar, dan apakah data stok AS mengonfirmasi pasar fisik yang ketat di tengah volatilitas geopolitik. (Arl)*
Sumber : Newsmaker.id