• Wed, May 27, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

27 May 2026 03:16  |

Minyak Kembali Menguat Saat Serangan Iran Uji Prospek Kesepakatan Hormuz

Harga minyak Brent menguat pada Selasa (26/5) setelah serangan AS di Iran selatan dan pesan Presiden Donald Trump yang berubah-ubah terkait pembicaraan Washington–Teheran membuat pelaku pasar kembali memasukkan premi risiko. Brent ditutup naik lebih dari 3% ke US$99,58 per barel dibanding settlement Senin.

Minyak WTI, yang tidak mencatat settlement pada Senin karena libur Memorial Day, ditutup turun hampir 3% ke US$93,89 per barel dibanding penutupan Jumat. Meski begitu, WTI sempat memantul dari level terendah intraday setelah kabar serangan AS, menandakan pasar masih sangat responsif terhadap perkembangan lapangan.

Militer AS mengatakan telah melakukan serangan “self-defense” di Iran selatan, menargetkan kapal yang diduga berupaya menebar ranjau serta lokasi peluncuran rudal, dengan alasan melindungi pasukan AS dari ancaman. IRGC menyatakan akan membalas pelanggaran gencatan senjata setelah mengidentifikasi dan berinteraksi dengan drone AS serta sebuah jet tempur F-35 yang disebut memasuki wilayah udara Iran.

Tasnim melaporkan pembicaraan dengan AS secara umum “cukup baik”, namun menyebut nota kesepahaman bergantung pada pelepasan US$24 miliar dana Iran yang dibekukan, menambah titik tawar yang bisa memperlambat finalisasi. Di saat yang sama, Trump mengatakan negosiasi “berjalan baik” namun memperingatkan operasi militer bisa dilanjutkan jika pembicaraan runtuh, menjaga pasar dalam mode headline-driven.

Di sisi fundamental, ketidakpastian Hormuz tetap menjadi kanal utama bagi minyak: risiko gangguan jalur pelayaran menjaga premi pasokan, sementara pergerakan harga energi langsung memengaruhi narasi inflasi dan ekspektasi suku bunga. Ketika ketegangan naik, pasar cenderung menaikkan pricing risiko inflasi energi dan volatilitas biaya input.

UBS menilai pasar minyak global menunjukkan tanda-tanda ketat karena persediaan terus turun di tengah gangguan pengiriman via Hormuz. Bank tersebut mencatat persediaan minyak global teramati turun 246 juta barel pada Maret–April, dan akumulasi kehilangan produksi bisa melampaui 1 miliar barel hingga akhir Mei, sehingga pasar dinilai masih “undersupplied” meski ada pergeseran stok di tanker karena rerouting ekspor AS ke Asia.

Agenda terdekat yang dipantau pasar adalah rapat Trump dan kabinet di Camp David pada Rabu, perkembangan status gencatan senjata, serta sinyal konkret terkait pembukaan kembali arus pelayaran Hormuz dan mekanisme dana beku, karena faktor-faktor ini menentukan apakah reli Brent bertahan atau kembali berbalik.(yds)

Sumber: Newsmaker.id

Related News

OIL

Harga Minyak Naik Dua Hari Beruntun, Ditopang Optimisme Daga...

Minyak naik untuk hari kedua di tengah optimisme atas perundingan perdagangan AS menjelang batas waktu minggu depan, dan kare...

25 July 2025 10:56
OIL

API Laporkan Lonjakan Stok AS, Minyak Melunak!

Harga minyak melemah tipis pada Rabu pagi setelah data American Petroleum Institute (API) menunjukkan kenaikan persediaan min...

18 March 2026 08:44
OIL

Brent Terombang-ambing, Pasar Bingung Antara Sanksi dan Paso...

Harga minyak mengalami pergerakan yang tidak stabil pada hari Selasa (15/07), di tengah ketidakpastian pasar atas dampak kebi...

15 July 2025 21:42
OIL

Brent Turun Tipis, Risiko Hormuz Mengintai

Harga minyak terkoreksi tipis dalam perdagangan Asia yang sepi, saat pelaku pasar menunggu hasil pembicaraan AS–Iran di Jen...

17 February 2026 12:45
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai