Minyak Turun, Pasar Evaluasi Risiko Gangguan Pasokan AS–Iran
Harga minyak melemah pada perdagangan Selasa (5/5) seiring pelaku pasar menilai kembali risiko gangguan pasokan jangka pendek di tengah ketegangan terbaru antara Amerika Serikat dan Iran.
Minyak Brent turun sekitar 1,3% ke kisaran US$112,85 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 2,5% ke sekitar US$103,78 per barel, setelah keduanya melonjak tajam pada sesi sebelumnya.
Gencatan senjata rapuh antara AS dan Iran tampak kembali terancam setelah serangan drone dan rudal Iran menghantam Uni Emirat Arab. Di sisi lain, Washington menyatakan telah menenggelamkan kapal Iran di Selat Hormuz, jalur strategis pengiriman energi global. Situasi ini meningkatkan ketidakpastian pasar, meskipun belum ada gangguan pasokan besar yang terkonfirmasi.
Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi berat jika menyerang kapal AS yang mengamankan lalu lintas komersial di selat tersebut. Pernyataan keras ini mempertegas sikap Washington dalam menjaga jalur pelayaran vital tetap terbuka.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa perkembangan di Selat Hormuz menunjukkan tidak ada solusi militer untuk krisis politik yang sedang berlangsung. Ia menambahkan bahwa pembicaraan yang difasilitasi Pakistan masih menunjukkan kemajuan dan memperingatkan agar pihak lain tidak memperkeruh situasi.
Analis dari bank ING menilai rentetan serangan terbaru mencerminkan tanda awal melemahnya gencatan senjata AS–Iran. Namun, pasar mendapat sedikit kelegaan setelah Trump menyiratkan bahwa konflik kemungkinan akan berlangsung dalam waktu terbatas. Meski demikian, volatilitas harga minyak diperkirakan tetap tinggi selama ketidakpastian geopolitik belum mereda.(yds)
Sumber: newsmaker.id