Minyak Melonjak Usai Iran Serang Fasilitas Energi di Fujairah UEA
Harga minyak melonjak setelah infrastruktur energi penting dan kapal tanker di Timur Tengah dilaporkan menjadi sasaran serangan, menandai eskalasi signifikan dalam ketegangan AS–Iran dan meningkatkan risiko terhadap gencatan senjata yang telah berlangsung sekitar empat minggu. Pasar kembali memasang premi risiko karena jalur pasokan energi dan logistik pengapalan kembali berada dalam sorotan.
Brent menguat tajam dan ditutup di atas US$114 per barel setelah serangan drone Iran memicu kebakaran di zona industri minyak strategis di Fujairah. UEA juga mengeluarkan sejumlah peringatan rudal kepada warganya dan menyatakan sistem pertahanan sedang aktif menghadapi ancaman. Pada sesi yang sama, laporan tembakan terhadap tanker yang terkait beberapa negara di Selat Hormuz turut menambah dorongan kenaikan harga.
Gelombang serangan ini menjadi peningkatan ketegangan paling menonjol sejak AS dan Iran menyepakati gencatan senjata rapuh pada awal April. Pasar menilai setiap hari Selat Hormuz tetap tersumbat berarti hilangnya pasokan dalam skala besar dari pasar global, memperbesar risiko pengetatan pasokan, tekanan biaya energi, dan dampak lanjutan terhadap pertumbuhan.
Analis menilai pasar mulai menyesuaikan ekspektasi bahwa pembukaan kembali Hormuz tidak akan berjalan mulus. Rebecca Babin dari CIBC Private Wealth Group mengatakan prosesnya berpotensi “lebih bergelombang dan tidak pasti,” dengan ekspektasi dimulainya kembali arus melalui Hormuz bergeser lebih mundur. Ia menekankan risiko terbesar dalam fase ini adalah kembali menjadikannya infrastruktur energi sebagai target, terutama di UEA.
Fujairah memiliki peran penting sebagai hub minyak mentah dan bahan bakar, serta semakin strategis karena lokasinya berada di luar Selat Hormuz. Namun, media semi-resmi Tasnim melaporkan Iran mendefinisikan ulang “zona kendali” di selat yang meluas hingga area selatan Fujairah, memicu kekhawatiran jangkauan maritim Iran makin luas. Setidaknya belasan kapal disebut telah mengalihkan rute setelah laporan perluasan jangkauan tersebut, yang berpotensi memperburuk keketatan pasokan global.
Di sisi kebijakan, AS telah memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran sejak pertengahan April, yang menekan ekspor minyak Iran dan menjadi titik sengketa utama dalam upaya membawa Teheran ke meja perundingan. Eskalasi terbaru terjadi setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana militer AS untuk mencoba memulihkan transit di jalur strategis itu dan membantu kapal-kapal yang terjebak keluar dari Teluk Persia. Sejumlah pelaku industri pelayaran menilai diperlukan kejelasan lebih lanjut terkait keamanan rute, termasuk isu ranjau dan perlindungan dari serangan Iran.
Militer AS menyatakan dua kapal dagang berbendera AS berhasil melintasi selat sebagai bagian dari upaya membuka jalur pelayaran. Komandan CENTCOM juga menyebut Iran mencoba mengganggu kapal-kapal di area tersebut dalam beberapa jam terakhir dan AS berhasil menahan serangan drone serta rudal. Pada penutupan sesi, WTI kontrak Juni ditutup menguat ke US$106,42 per barel, sementara Brent kontrak Juli naik dan ditutup di US$114,44 per barel.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id