Minyak Konsolidasi di Level Tinggi: Pasar Lagi “Nahan Napas”
Harga minyak bergerak turun tipis pada Jumat (30/1), tapi tetap “nempel” di dekat level tertinggi enam bulan. Pasar lagi masuk fase konsolidasi setelah reli beberapa hari terakhir—dengan faktor utama yang masih jadi bensin: ketegangan AS–Iran yang belum selesai.
Kontrak berjangka Brent ditutup di $70,69 per barel, turun 2 sen atau 0,03% (kontrak Maret berakhir pada Jumat). Sementara WTI AS ditutup di $65,21 per barel, turun 21 sen atau 0,32%. Sehari sebelumnya, minyak sempat menyentuh level tertinggi sejak awal Agustus setelah muncul kabar Trump mempertimbangkan langkah terhadap Iran—termasuk opsi serangan terarah—yang langsung memicu kekhawatiran gangguan pasokan.
Meski belakangan AS dan Iran sama-sama memberi sinyal mau berdialog, Teheran menegaskan pada Jumat bahwa kemampuan pertahanan mereka tidak boleh masuk agenda pembicaraan. Di sisi lain, Washington juga menambah tekanan: AS memperkuat posisi militernya di Timur Tengah dalam beberapa pekan terakhir dan menjatuhkan sanksi baru yang menargetkan tujuh warga negara Iran serta setidaknya satu entitas.
Dari sisi makro, penguatan dolar AS ikut menahan laju minyak. Dolar naik dari titik terendah empat tahun awal pekan ini, dan reli pada Jumat makin kuat setelah Trump mengumumkan akan memilih mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh untuk memimpin bank sentral saat masa jabatan Jerome Powell berakhir pada Mei. Dolar yang lebih kuat biasanya bikin minyak “lebih mahal” bagi pembeli non-dolar, sehingga permintaan cenderung tertahan.
Tambahan catatan dari sisi suplai: periode pemeliharaan puncak untuk kilang-kilang besar di Rusia tahun ini diperkirakan terjadi bulan ini dan September, berdasarkan perhitungan Reuters dari estimasi sumber industri. Artinya, pasar juga akan memantau potensi efek pemeliharaan kilang terhadap arus produk dan dinamika pasokan global. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id