Minyak Stabil Setelah Lonjakan Akibat Risiko Geopolitik
Harga minyak menghapus penurunan sebelumnya pada perdagangan terbaru, seiring para pedagang mencermati kemungkinan respons Amerika Serikat terhadap kerusuhan yang terus berlangsung di Iran. Kekhawatiran meningkat setelah muncul laporan bahwa sejumlah personel telah disarankan untuk meninggalkan pangkalan udara AS di Qatar, memicu kembali premi risiko geopolitik di pasar energi.
Minyak mentah Brent diperdagangkan di atas US$65 per barel, setelah mencatat kenaikan lebih dari 9% dalam empat sesi sebelumnya. Laporan mengenai evakuasi terbatas staf dari Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar yang sebelumnya pernah menjadi sasaran serangan balasan Iran memperkuat kekhawatiran pasar akan potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump mendorong warga Iran untuk terus melakukan protes terhadap pemerintah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan mengatakan bahwa Washington akan “bertindak dengan sesuai” setelah mengetahui jumlah korban tewas dalam demonstrasi tersebut. Trump juga mengisyaratkan bahwa langkah lanjutan akan ditentukan berdasarkan hasil pertemuan Dewan Keamanan Nasional.
Pelaku pasar kini memantau gejolak di Iran dan kemungkinan intervensi Amerika, yang dapat mengancam produksi minyak mentah negara tersebut sekitar 3,3 juta barel per hari, serta pasokan cairan gas. Prospek gangguan pasokan dari salah satu produsen utama OPEC itu menjadi faktor kunci yang menopang harga minyak di tengah ketidakpastian global.
Sejak awal tahun, harga minyak menguat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Iran dan Venezuela, yang mengembalikan premi risiko setelah periode penurunan panjang akibat kekhawatiran kelebihan pasokan. Meski data terbaru menunjukkan peningkatan stok minyak mentah AS, sentimen pasar tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik, dengan Brent untuk pengiriman Maret berada di kisaran US$65,68 per barel dan WTI Februari diperdagangkan di sekitar US$61,34 per barel.(alg)
Sumber: Newsmaker.id