Minyak Melemah Setelah Rally: Turun karena Pasokan Melimpah & Risiko Geopolitik
Harga minyak turun tipis pada Rabu(14/1) setelah mengalami kenaikan empat hari beruntun yang besar. Kontrak berjangka Brent turun sekitar 0,3% ke $65,27 per barel, sementara WTI turun 0,4% ke $60,92 per barel, karena pasar mulai mengukur ulang sentimen setelah kenaikan sebelumnya. Penurunan ini terutama disebabkan oleh peningkatan persediaan minyak mentah dan produk olahan di AS, dengan stok minyak mentah dilaporkan naik 5,23 juta barel pekan lalu, yang memberi tekanan pada harga.
Selain itu, lanjutnya ekspor minyak Venezuela turut menambah pasokan global, sehingga menahan laju kenaikan harga meskipun ketegangan geopolitik masih menjadi faktor perhatian. Dua kapal tanker super yang membawa minyak mentah keluar dari Venezuela meningkatkan pandangan bahwa pasokan akan tetap kuat dalam jangka pendek, sehingga pasar cenderung berkonsolidasi di level saat ini.
Meski begitu, risiko geopolitik belum hilang sepenuhnya dari radar investor minyak. Ketidakpastian terkait potensi gangguan pasokan Iran akibat protes sipil yang mematikan tetap membayangi pasar energi, dan analis memperingatkan bahwa premi risiko geopolitik bisa membuat pasar tetap volatil jika situasi memburuk. Bahkan beberapa analis menaikkan prospek harga Brent menjadi sekitar $70 per barel dalam tiga bulan ke depan berdasarkan potensi gangguan tersebut.
Di sisi lain, proyeksi jangka menengah tetap bearish karena kelebihan pasokan global yang diperkirakan akan berlanjut tahun ini. Pasokan yang melimpah membuat pasar cenderung berhati-hati meski ada potensi lonjakan harga sementara akibat risiko geopolitik.
Secara keseluruhan, pasar minyak kini dalam fase “tarik napas”, di mana kekhawatiran pasokan jangka pendek dan tekanan pasokan jangka panjang saling bersinggungan, sehingga harga cenderung fluktuatif dan menunggu katalis baru untuk arah berikutnya. (az)
Sumber: Newsmaker.id