Minyak Melejit, Sentimen Iran Menguat—Venezuela Berpotensi Jadi Penyeimbang
Harga minyak menguat tajam pada Selasa (13/1) karena pasar kembali memasang premi risiko geopolitik. Kekhawatiran terbesar datang dari Iran—mulai dari eskalasi protes hingga ancaman kebijakan AS—yang membuat trader lebih fokus pada potensi gangguan pasokan ketimbang peluang tambahan suplai dari Venezuela.
Di perdagangan terbaru, Brent bergerak di kisaran $65,4–$65,5 per barel, sementara WTI berada di sekitar $61,0 per barel. Kenaikan ini menempatkan minyak kembali dekat area tertinggi beberapa pekan terakhir, setelah reli beruntun sejak awal tahun.
Tekanan pasar menguat setelah Presiden AS Donald Trump menyebut rencana tarif 25% untuk negara yang masih berbisnis dengan Iran—langkah yang secara teori bisa menekan ekspor Iran, apalagi jika pembeli utama seperti China ikut mengurangi pembelian.
Dari sisi psikologi pasar, ancaman ini saja sudah cukup untuk menaikkan “harga risiko” karena pelaku pasar tidak mau kecolongan jika pasokan benar-benar tersendat.
Kekhawatiran pasokan juga muncul dari Laut Hitam. Reuters melaporkan tanker yang menunggu muatan di sekitar terminal CPC (jalur penting ekspor minyak Kazakhstan) terkena serangan drone—menambah daftar risiko baru pada rantai pasok global.
Meski potensi tambahan pasokan dari Venezuela bisa menjadi penahan reli, pasar saat ini terlihat lebih memilih “defensif”: mengantisipasi gangguan pasokan dulu, baru menghitung suplai tambahan belakangan.(yds)
Sumber: Newsmaker.id