Tarif Iran + Serangan Kapal: Minyak “Ngegas”
Harga minyak kembali menguat pada Selasa (13/1), bahkan sempat menembus $65 per barel untuk pertama kalinya sejak November sebelum bergerak lebih tenang. Brent diperdagangkan di area $64-an setelah reli tajam beberapa hari terakhir, sementara WTI masih bertahan di bawah $60.
Pemicu utamanya datang dari meningkatnya tekanan AS terhadap Iran. Presiden Donald Trump mengumumkan rencana tarif 25% untuk negara mana pun yang masih “berbisnis” dengan Iran, dan juga tidak menutup kemungkinan langkah militer—membuat pasar kembali memasang premi geopolitik karena khawatir ekspor Iran terganggu.
Di saat yang sama, risiko pasokan muncul dari jalur Laut Hitam. Dua kapal tanker dilaporkan terkena serangan drone saat menunggu muat di sekitar terminal Caspian Pipeline Consortium (CPC)—titik penting ekspor minyak Kazakhstan. Kombinasi cuaca buruk, gangguan keamanan, dan pemeliharaan sudah membuat proyeksi pemuatan turun tajam; angka pengapalan disebut bisa ditekan ke sekitar 800–900 ribu barel per hari, jauh di bawah perkiraan awal.
Sinyal “pasar takut lonjakan” juga terlihat dari opsi: trader makin agresif membeli proteksi kenaikan harga, dan minat pada opsi beli (call) Brent melonjak ke level yang jarang terjadi. Meski begitu, reli minyak masih bisa “ketahan” kalau pasar makin yakin pasokan tambahan dari negara lain masuk (termasuk potensi kembalinya barel Venezuela). Jadi untuk sekarang, minyak cenderung tetap kuat—tapi arahnya sangat bergantung pada apakah ketegangan Iran dan gangguan CPC benar-benar berubah jadi gangguan pasokan yang nyata. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id