Ancaman Tarif Iran 25% Bikin Minyak “Manas” Lagi
Harga minyak menyentuh level tertinggi sejak November setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menerapkan tarif 25% terhadap barang dari negara-negara yang tetap “berbisnis” dengan Iran, menyusul gelombang kerusuhan mematikan di negara anggota OPEC tersebut. Brent diperdagangkan mendekati $64 per barel setelah melonjak lebih dari 6% dalam tiga sesi terakhir, sementara WTI masih bergerak di bawah $60.
Kenaikan ini menandai pembalikan arah setelah minyak sempat turun selama lima bulan berturut-turut karena pasar khawatir pasokan global berlebih. Namun awal tahun ini situasi berubah: intervensi AS di Venezuela dan memanasnya kondisi di Iran membuat pelaku pasar kembali memasang “premi risiko” pada harga minyak, walau otoritas Teheran mengklaim protes sudah mulai diredam.
Meski perdagangan hari Selasa cenderung lebih tenang karena detail kebijakan Trump belum jelas, ancaman tarif ini dinilai bisa memicu efek lanjutan yang lebih besar—terutama risiko perang dagang baru dengan China. Ini penting karena China adalah importir minyak terbesar dunia dan juga pembeli utama minyak Iran. Karena takut harga melonjak tiba-tiba, trader pun ramai-ramai mencari perlindungan dengan meningkatkan transaksi opsi beli (call options) Brent ke level yang sangat tinggi.
Di sisi pasokan, potensi gangguan ekspor Iran sebenarnya tidak besar—porsinya kurang dari 2% permintaan global—tapi cukup untuk mengurangi kekhawatiran soal kelebihan pasokan. Stok minyak Iran di terminal ekspor utama juga dilaporkan turun sejak awal tahun, mengindikasikan ada perpindahan pasokan di tengah gejolak. Sementara itu, pasokan dari Kazakhstan ikut tersendat akibat cuaca buruk, perawatan fasilitas, dan kerusakan infrastruktur yang terkait serangan drone, menambah alasan pasar tetap waspada. (az)
Sumber: Newsmaker.id