Harga Minyak Menguat, Fokus Iran Venezuela
Harga minyak melanjutkan kenaikan karena pasar menimbang risiko geopolitik, terutama setelah penyiaran tajam pada sesi sebelumnya. Minyak WTI bergerak di atas level US$58 per barel, sementara Brent bertahan di sekitar US$62 per barel.
Sentimen menguat setelah Presiden Donald Trump melontarkan ancaman akan menghantam Iran “keras” bila pemerintah Iran membunuh demonstran di tengah situasi yang terbentang. Pernyataan itu membuat pasar kembali sensitif terhadap potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, perhatian juga tertuju pada langkah Amerika Serikat untuk memperketat kendali terhadap ekspor minyak dan sektor energi Venezuela. Kebijakan dan tekanan AS terhadap Venezuela dinilai dapat mempengaruhi aliran pasokan, sehingga menjadi faktor penopang harga.
Selain faktor geopolitik, ada dorongan dari sisi teknis. Periode tahunan penyeimbangan kembali indeks komoditas diperkirakan memicu arus dana kembali masuk ke minyak, yang ikut menambah momentum kenaikan dalam jangka pendek.
Meski begitu, pasar tetap membayangkan potensi surplus pasokan pada tahun ini yang bisa menekan harga dalam beberapa bulan ke depan. Bahkan, laporan menyebut sentimen klien Goldman Sachs terhadap minyak berada di posisi paling bearish dalam 10 tahun.
Sementara itu, investor juga mencermati agenda di Washington. Sejumlah eksekutif industri minyak—termasuk dari Chevron dan Exxon Mobil dijadwalkan bertemu Trump dan pejabat senior di Gedung Putih untuk membahas rencana pembangunan kembali sektor energi Venezuela, yang berpotensi mempengaruhi kebijakan dan pasokan minyak global.
Sumber: Newsmaker.id