Perang, Tarif, OPEC+: Minyak Tumbang di 2025
Harga minyak melemah pada Rabu (31/12) dan menutup 2025 dengan penurunan tajam, mendekati 20%. Sentimen negatif dipicu meningkatnya perkiraan kelebihan pasokan, di tengah tahun yang diwarnai perang, tarif yang lebih tinggi, tambahan produksi OPEC+, serta rangkaian sanksi terhadap Rusia, Iran, dan Venezuela.
Secara tahunan, Brent terkoreksi sekitar 19%—penurunan tahunan terburuk sejak 2020—dan ini menjadi tahun ketiga berturut-turut Brent berada di zona merah, rekor rentetan kerugian terpanjang. WTI pun mencatat penurunan hampir 20% sepanjang 2025. Pada perdagangan terakhir tahun ini, Brent ditutup di $60,85 per barel (turun 48 sen atau 0,8%), sementara WTI berakhir di $57,42 per barel (turun 53 sen atau 0,9%).
Dari sisi data persediaan, EIA mencatat stok minyak mentah AS menyusut pada pekan lalu, tetapi stok produk olahan justru melonjak. Persediaan minyak mentah turun 1,9 juta barel menjadi 422,9 juta barel pada pekan yang berakhir 26 Desember—lebih besar dari perkiraan survei Reuters yang memperkirakan penurunan 867 ribu barel. Sebaliknya, stok bensin naik 5,8 juta barel menjadi 234,3 juta barel (di atas ekspektasi +1,9 juta barel), dan stok distilat termasuk diesel serta minyak pemanas bertambah 5 juta barel menjadi 123,7 juta barel (melampaui proyeksi +2,2 juta barel). EIA juga melaporkan produksi minyak AS sempat menyentuh rekor pada Oktober.
Pasar energi sejatinya memulai 2025 dengan tone yang lebih kuat, setelah sanksi yang diperketat terhadap Rusia di akhir masa jabatan Presiden Joe Biden mengganggu pasokan bagi pembeli utama seperti China dan India. Tekanan geopolitik juga meningkat ketika serangan drone Ukraina merusak infrastruktur Rusia dan mengganggu ekspor minyak Kazakhstan. Pada Juni, konflik Iran–Israel selama 12 hari memicu kekhawatiran gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz—jalur kunci minyak global—yang sempat mengerek harga.
Namun, reli tidak bertahan lama. Harga mulai mereda seiring OPEC+ mempercepat penambahan pasokan dan kekhawatiran bahwa tarif AS dapat menekan pertumbuhan ekonomi global serta permintaan bahan bakar. OPEC+ kemudian menahan laju kenaikan produksi untuk kuartal I 2026 setelah sejak April melepas sekitar 2,9 juta barel per hari ke pasar. Pertemuan berikutnya dijadwalkan pada 4 Januari.
Ke depan, sebagian besar analis menilai pasar masih berisiko surplus pada 2026. Estimasi kelebihan pasokan bervariasi, mulai dari 3,84 juta barel per hari menurut Badan Energi Internasional hingga sekitar 2 juta barel per hari menurut Goldman Sachs. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id