Minyak Bersiap Tutup 2025 dengan Penurunan Terbesar Sejak 2020
Harga minyak naik tipis pada Rabu (31/12), tapi secara keseluruhan 2025 diperkirakan turun lebih dari 15% karena pasar makin yakin bakal terjadi kelebihan pasokan. Tahun ini ditandai perang, tarif yang lebih tinggi, kenaikan output OPEC+, serta sanksi terhadap Rusia, Iran, dan Venezuela.
Untuk performa tahunan, Brent tercatat turun hampir 18% (penurunan persentase tahunan terbesar sejak 2020) dan menuju tiga tahun beruntun melemah—jadi rekor streak terpanjangnya. WTI juga mengarah turun sekitar 19% sepanjang 2025.
Analis BNP Paribas, Jason Ying, memperkirakan Brent bisa turun ke $55/barel pada kuartal I, lalu pulih ke sekitar $60/barel sepanjang sisa 2026 ketika pertumbuhan pasokan kembali “normal” dan permintaan cenderung datar. Ia menilai alasannya lebih bearish dalam jangka dekat karena produsen shale AS sempat hedging di level tinggi—membuat suplai shale lebih stabil dan tidak terlalu sensitif terhadap pergerakan harga.
Pada Rabu pukul 11:50 GMT, Brent naik tipis ke $61,54/barel dan WTI ke $58,16/barel. Dari sisi stok, sumber pasar mengutip data API yang menunjukkan persediaan minyak mentah dan bahan bakar AS naik pekan lalu, sementara data resmi EIA dijadwalkan rilis kemudian hari itu. OPEC+ sendiri mempercepat kenaikan produksi di 2025, namun menjeda kenaikan output untuk kuartal I 2026 setelah melepas sekitar 2,9 juta bph ke pasar sejak April; rapat berikutnya 4 Januari.
5 poin penting
Minyak menuju penurunan tahunan >15% di 2025 karena ekspektasi oversupply.
Brent turun hampir 18% (terburuk sejak 2020) dan berpotensi 3 tahun beruntun melemah; WTI turun sekitar 19%
BNP Paribas: Brent bisa ke $55 di kuartal I 2026 lalu stabil sekitar $60 sisa 2026.
Shale AS dinilai lebih “konsisten” karena hedging di level tinggi, jadi suplai tidak terlalu responsif pada harga.
OPEC+ melepas sekitar 2,9 juta bph sejak April, jeda kenaikan di kuartal I 2026; pasar menanti rapat 4 Januari + proyeksi surplus pasokan (IEA 3,84 juta bph vs Goldman 2 juta bph).(yds)
Sumber: Reuters.com