• Fri, Jan 16, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Indonesia News Portal for Traders | Financial & Business Updates

31 December 2025 15:46  |

Minyak Melemah, Brent Berpotensi Catat Penurunan Tahunan Terpanjang

Harga minyak nyaris tidak berubah pada Rabu (31/12), tetapi diperkirakan tetap turun lebih dari 15% sepanjang 2025, karena kenaikan pasokan melampaui permintaan di tahun yang diwarnai perang, kenaikan tarif, produksi OPEC+, serta sanksi terhadap Rusia, Iran, dan Venezuela.

Kontrak berjangka Brent, yang turun hampir 18% (penurunan persentase tahunan terbesar sejak 2020), berada di jalur tiga tahun berturut-turut melemah—rentetan penurunan tahunan terpanjang sepanjang sejarahnya. Kontrak Maret (yang jatuh tempo Rabu) turun 5 sen menjadi $61,28 per barel pada pukul 07.37 GMT.

Analis komoditas BNP Paribas, Jason Ying, memperkirakan Brent bisa turun ke $55 per barel pada kuartal pertama, lalu pulih ke $60 per barel untuk sisa 2026, karena pertumbuhan pasokan diperkirakan kembali “normal” sementara permintaan cenderung datar. “Alasan kami lebih bearish dalam jangka dekat dibanding pasar adalah karena kami menilai produsen shale AS mampu melakukan lindung nilai (hedging) di level harga tinggi,” katanya. “Jadi pasokan dari produsen shale akan lebih konsisten dan tidak terlalu sensitif terhadap pergerakan harga.”

Minyak mentah AS WTI berada di $57,92, turun 3 sen, dan mengarah pada penurunan tahunan sekitar 19%. Data LSEG menunjukkan, rata-rata harga 2025 untuk kedua acuan (Brent dan WTI) merupakan yang terendah sejak 2020.

Sumber-sumber pasar menyebut stok minyak mentah dan bahan bakar AS naik pekan lalu, mengutip data American Petroleum Institute (API) pada Selasa. Sementara itu, Energy Information Administration (EIA) AS akan merilis data resminya pada Rabu.

Harga Mendingin Setelah Awal Tahun yang Kuat

Pasar minyak mengawali 2025 dengan kuat ketika mantan Presiden Joe Biden mengakhiri masa jabatannya dengan memberlakukan sanksi lebih keras pada Rusia, yang mengganggu pasokan ke pembeli besar seperti China dan India. Perang di Ukraina juga memanas setelah drone Ukraina merusak infrastruktur energi Rusia dan mengganggu ekspor minyak Kazakhstan. Selain itu, konflik Iran–Israel selama 12 hari pada Juni mengancam jalur pengiriman di Selat Hormuz—titik “bottleneck” penting minyak dunia—yang ikut memanaskan harga.

Menambah tensi geopolitik, dua produsen utama OPEC, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, terlibat konflik terkait Yaman. Presiden AS Donald Trump juga memerintahkan blokade ekspor minyak Venezuela dan mengancam serangan lain terhadap Iran.

Namun, harga kemudian mendingin setelah OPEC+ mempercepat kenaikan produksinya tahun ini dan kekhawatiran dampak tarif AS menekan prospek pertumbuhan ekonomi global serta permintaan bahan bakar.

OPEC+

Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) telah menjeda kenaikan produksi untuk kuartal pertama 2026, setelah menambah pasokan sekitar 2,9 juta barel per hari ke pasar sejak April. Pertemuan OPEC+ berikutnya dijadwalkan pada 4 Januari.

Sebagian besar analis memperkirakan pasokan akan melebihi permintaan tahun depan, dengan estimasi surplus mulai dari 3,84 juta barel per hari (International Energy Agency/IEA) hingga 2 juta bph (Goldman Sachs).

“Kalau harga benar-benar turun besar, saya membayangkan akan ada pemangkasan (dari OPEC+),” kata Martijn Rats, strategis minyak global Morgan Stanley. “Tapi mungkin memang perlu turun cukup jauh dari level sekarang—mungkin ke kisaran $50-an bawah.” Ia menambahkan, “Kalau harga hari ini bertahan, setelah jeda di Q1, mereka kemungkinan akan melanjutkan pelepasan/pengurangan pemangkasan ini.”

Direktur pelaksana konsultan JTD Energy, John Driscoll, memperkirakan risiko geopolitik tetap bisa menopang harga minyak meski fundamental menunjukkan potensi kelebihan pasokan. “Semua orang bilang akan makin lemah menuju 2026 dan seterusnya,” ujarnya. “Tapi saya tidak akan mengabaikan geopolitik—dan faktor Trump akan terus bermain karena dia ingin terlibat dalam segala hal.” Ia menutup dengan, “Kita hidup di atas tong mesiu, dan itu bisa jadi ‘lantai’ utama harga.”(yds)

Sumber: Reuters.com

Related News

OIL

Harga Minyak Naik Dua Hari Beruntun, Ditopang Optimisme Daga...

Minyak naik untuk hari kedua di tengah optimisme atas perundingan perdagangan AS menjelang batas waktu minggu depan, dan kare...

25 July 2025 10:56
OIL

Brent Terombang-ambing, Pasar Bingung Antara Sanksi dan Paso...

Harga minyak mengalami pergerakan yang tidak stabil pada hari Selasa (15/07), di tengah ketidakpastian pasar atas dampak kebi...

15 July 2025 21:42
OIL

Minyak Dunia Tertahan

Harga minyak sedikit berubah setelah mengalami penurunan beberapa minggu yang lalu, dengan hubungan pedagang dampak dari sank...

22 September 2025 07:39
OIL

Pasokan Tambah, Ekspor Turun: Drama Baru Harga Minyak Dimula...

Harga minyak dunia pada Rabu (2/7) nyaris tak berubah karena pasar menimbang berbagai faktor, mulai dari rencana peningkatan ...

2 July 2025 16:19
BIAS23.com NM23 Ai