Yield AS Menguat, Emas Kembali Jatuh di Bawah US$4.400
Pasar obligasi Asia Pasifik mengalami pelemahan pada perdagangan Selasa (11/8), mengikuti tekanan dari pasar obligasi Amerika Serikat. Kenaikan yield Treasury AS kembali menjadi perhatian utama investor menjelang rilis data inflasi AS pekan ini.
Yield Treasury AS tenor 10 tahun sebelumnya naik sekitar 6 basis poin ke 4,71%. Pergerakan tersebut ikut menekan obligasi Australia dan Selandia Baru karena investor kembali memperhitungkan risiko inflasi serta kemungkinan kebijakan suku bunga The Fed tetap ketat.
Penguatan yield Treasury juga memberikan tekanan terhadap harga emas. Setelah sebelumnya sempat menembus level US$4.400 per troy ons, emas kembali turun ke bawah level tersebut karena meningkatnya imbal hasil obligasi mengurangi daya tarik aset yang tidak memberikan bunga.
Tekanan yield muncul bersamaan dengan kenaikan harga minyak selama empat sesi berturut-turut. Brent masih bergerak dekat US$88 per barel setelah ketegangan AS-Iran kembali membuat prospek pembukaan Selat Hormuz semakin tidak pasti. Kondisi ini memunculkan kembali kekhawatiran terhadap inflasi energi.
Pasar kini menunggu data CPI AS, yang akan menjadi petunjuk penting untuk arah kebijakan The Fed. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat menjaga yield Treasury tetap tinggi dan memperbesar tekanan terhadap emas.
Analisis Newsmaker: Selama yield Treasury AS tenor 10 tahun bertahan tinggi, emas berpotensi sulit mempertahankan posisi di atas US$4.400. CPI menjadi pemicu berikutnya. Data yang lebih panas dapat memperkuat yield dan dolar serta memperpanjang koreksi emas, sedangkan inflasi yang lebih rendah berpeluang menurunkan yield dan membuka jalan bagi emas kembali menguji US$4.400.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id