Emas Turun di Bawah $4710 Saat Hormuz Tertutup dan CPI AS Panas
Harga emas turun menembus $4710 per ons pada Selasa (12/5) di tengah meningkatnya ketidakpastian Timur Tengah dan penutupan berkepanjangan Selat Hormuz yang mendorong harga minyak lebih tinggi. Kondisi ini menjaga fokus pasar pada risiko inflasi, sekaligus mengurangi daya tarik emas meski tensi geopolitik meningkat.
Tekanan tambahan datang dari penguatan dolar AS yang membebani bullion. Penguatan greenback biasanya membuat emas lebih mahal bagi pembeli di luar AS, sehingga permintaan cenderung melemah ketika dolar menguat pada fase risk pricing.
Dari sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump menyebut gencatan senjata AS-Iran berada pada “massive life support” setelah menolak proposal perdamaian terbaru Teheran. Pasar menilai risiko blokade Selat Hormuz bisa bertahan lebih lama, apalagi ada laporan Trump akan bertemu tim keamanan nasional untuk membahas potensi dimulainya kembali operasi militer dan meninjau rencana pengawalan kapal komersial melalui selat tersebut.
Di sisi makro, inflasi AS April naik ke 3,8% (tertinggi sejak Mei 2023) dan inflasi inti juga melampaui ekspektasi di 2,8%. Kombinasi minyak yang tinggi dan data inflasi yang panas memperumit jalur kebijakan Federal Reserve, meningkatkan probabilitas repricing menuju skenario pengetatan tambahan, termasuk kemungkinan kenaikan 25 bps pada Desember—membuat suku bunga riil dan dolar menjadi variabel kunci yang terus menekan emas.(yds)
Sumber: newsmaker.id