Emas Tertekan Beruntun, Arus Keluar ETF dan Yield-Dolar Menambah Beban
Harga emas kembali melemah dan memperpanjang tren turun sejak pecahnya perang Iran, meski logam mulia ini biasanya dipandang sebagai aset lindung nilai. Emas tercatat turun setiap pekan sejak AS dan Israel menyerang Iran bulan lalu, seiring pasar lebih fokus pada lonjakan energi yang mengangkat risiko inflasi dan mengubah ekspektasi suku bunga.
Tekanan utama datang dari penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil Treasury, yang meningkatkan biaya peluang memegang emas karena tidak memberikan imbal hasil. Di saat yang sama, sebagian investor menjual emas untuk menutup kerugian di aset lain, membuat pergerakan emas semakin rapuh ketika volatilitas pasar meningkat.
Sinyal kebijakan moneter ikut memperkuat tekanan. Federal Reserve menahan suku bunga pada pertemuan pertengahan pekan, dan Ketua The Fed Jerome Powell menekankan pelonggaran baru membutuhkan kemajuan nyata dalam penurunan inflasi. Komunikasi ini menahan harapan pemangkasan cepat, sehingga mendukung dolar dan yield—dua faktor yang biasanya negatif bagi emas.
Arus dana juga bergerak berlawanan dengan narasi safe-haven. ETF berbasis emas diperkirakan mencatat minggu ketiga arus keluar beruntun, dengan kepemilikan turun lebih dari 60 ton dalam periode tersebut, dan total kepemilikan global menghapus seluruh tambahan sejak awal tahun. Sensitivitas ETF terhadap suku bunga membuat arus keluar cenderung berlanjut ketika pasar mem-price in kebijakan lebih ketat lebih lama.
Meski koreksi tajam, emas masih sekitar 5% lebih tinggi sepanjang tahun ini setelah sempat menyentuh rekor mendekati US$5.600 pada akhir Januari, ditopang antusiasme investor, pembelian bank sentral, serta kekhawatiran terhadap independensi The Fed. JPMorgan Private Bank menilai lonjakan awal saat konflik memanas menunjukkan fungsi lindung nilai geopolitik emas masih ada, tetapi fokus pasar dapat bergeser dari inflasi ke risiko resesi jika perang berlarut—kondisi yang berpotensi menghidupkan kembali daya tarik safe-haven emas.
Pada perdagangan New York, emas turun 1,7% ke US$4.569,23 dan mengarah ke penurunan delapan hari beruntun, terpanjang sejak Oktober 2023. Pelemahan itu menarik RSI 14 hari ke bawah 35, mendekati area yang sebagian pelaku pasar anggap “oversold”, meski volatilitas yang tinggi membuat pasar masih rentan terhadap tekanan jual lanjutan. (asd)
Sumber : Newsmaker.id