Emas Tertekan,Minyak Naik dan Likuiditas Ketat Bebani Safe haven
Harga emas (XAU/USD) masih defensif di sekitar US$4.640 pada awal sesi Asia Jumat, melanjutkan tekanan setelah volatilitas tinggi beberapa hari terakhir. Meski ketegangan Timur Tengah biasanya mendukung aset safe-haven, emas saat ini kesulitan pulih karena pasar lebih fokus pada risiko inflasi energi dan kondisi likuiditas.
Ada tiga penyebab utama yang menekan emas. Pertama, lonjakan harga minyak dan energi akibat eskalasi perang AS–Israel dengan Iran memicu kembali kekhawatiran inflasi. Ketika inflasi energi naik, pasar cenderung menunda ekspektasi pemangkasan suku bunga dan menjaga yield tetap tinggi ini menjadi beban bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Kedua, nada hawkish The Fed ikut memperkuat dolar AS. Setelah The Fed menahan suku bunga, Ketua Jerome Powell menyoroti risiko inflasi dari kenaikan minyak dan menyebut opsi kenaikan suku bunga sempat dibahas. Dolar yang lebih kuat biasanya menekan komoditas berdenominasi USD, sehingga emas makin berat meski ada permintaan lindung nilai.
Ketiga, pengetatan likuiditas dan margin call mendorong aksi jual pada aset yang paling mudah dicairkan, termasuk emas. Saat pasar bergejolak, sebagian investor menjual emas untuk mengumpulkan kas atau menutup kewajiban margin, sehingga tekanan jual bisa muncul bahkan ketika headline geopolitik sedang panas.
Di sisi lain, risiko geopolitik tetap menjadi bantalan. Iran menyampaikan “nol toleransi” jika infrastruktur energi kembali diserang, sementara Saudi memberi sinyal pengekangan tidak tanpa batas. Namun untuk memulai pemulihan yang lebih stabil, emas biasanya butuh salah satu dari dua hal: USD/yield melemah atau eskalasi risiko meningkat cukup besar hingga mengalahkan tekanan suku bunga.(CP)
Sumber: Newsmaker.id