Emas Anjlok di Bawah $5000 Jelang The Fed
Harga emas memperpanjang pelemahan pada Rabu (18/3) dan turun menembus level psikologis US$5.000 per troy ounce, ketika ketidakpastian suku bunga dan inflasi meningkat menjelang keputusan kebijakan Federal Reserve yang dijadwalkan keluar hari ini.
Emas sempat kembali berada di atas US$5.000, namun berbalik turun seiring konflik Iran yang berlanjut menjaga pasar dalam mode waspada terhadap dampak inflasi.
Spot emas turun 2,9% ke US$4.858,32 pada pukul 10.40 ET, sementara kontrak berjangka emas turun 2,9% ke US$4.862,11 per ounce. Permintaan safe haven dinilai terbatas karena pasar lebih fokus pada risiko inflasi dari perang dan harga energi, ketimbang perlindungan portofolio jangka pendek.
Konflik Timur Tengah menunjukkan sedikit tanda mereda setelah serangan udara Israel menewaskan pejabat keamanan Iran Ali Larijani awal pekan ini, disusul serangan balasan dari Iran. Harga minyak tetap bertahan di atas US$100 per barel, dengan kekhawatiran gangguan pasokan setelah jalur pengapalan utama Selat Hormuz terganggu.
Lonjakan minyak yang mendorong inflasi menambah tekanan pada emas karena meningkatkan peluang bank sentral mempertahankan kebijakan ketat lebih lama; RBA bahkan telah menaikkan suku bunga pada Selasa dan memperingatkan tekanan inflasi dari konflik.
Perhatian pasar kini tertuju pada keputusan The Fed, disusul rapat BoJ, ECB, SNB, dan BoE pekan ini. The Fed secara luas diperkirakan menahan suku bunga, namun fokus utama adalah apakah bank sentral mengantisipasi kenaikan inflasi akibat konflik Iran dan bagaimana itu memengaruhi prospek suku bunga.
Pasar disebut semakin menyingkirkan peluang pemangkasan hingga setidaknya September, yang memperbesar biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas.
Meski masih mencatat kenaikan sepanjang tahun, emas terus menjauh dari rekor sekitar US$5.600 pada akhir Januari. ING menilai emas dalam jangka pendek “terjepit” antara risiko geopolitik dan hambatan makro dari suku bunga yang lebih tinggi.
Sentimen juga dibayangi data PPI AS Februari yang lebih panas dari perkiraan, mempertegas tekanan inflasi yang dikhawatirkan dapat meningkat dalam beberapa bulan ke depan di tengah perang Iran.(yds)
Sumber: Newsmaer.id