Emas Mundur dari Puncak, Pasar Mulai Ambil Untung
Harga emas mengalami tekanan paling besar sejak Oktober setelah para trader ramai-ramai ambil untung usai reli tajam yang sempat membawa logam mulia ini menembus $5.500 per ons. Gelombang jual muncul di tengah cerita besar “kabur dari obligasi dan mata uang” yang sebelumnya jadi bahan bakar reli emas dalam beberapa pekan terakhir.
Pemicu koreksi datang ketika dolar AS mulai pulih, membuat emas yang dihargai dalam dolar jadi kurang menarik bagi sebagian pembeli global. Akibatnya, harga emas sempat jatuh hingga 5,7%—penurunan intraday terbesar sejak 21 Oktober—sebelum memangkas sebagian kerugian. Perak ikut terseret lebih dalam, sempat turun hingga 8,4%, menegaskan bahwa pasar logam mulia sedang masuk fase “dingin” setelah lari terlalu kencang.
Secara fundamental, emas memang sudah naik agresif sepanjang tahun karena kombinasi tensi geopolitik, kekhawatiran soal independensi The Fed, dan menguatnya narasi pelemahan nilai mata uang. Hanya dalam bulan ini, emas sudah melesat hampir 20%—angka yang bikin pasar rentan koreksi karena banyak posisi profit yang menggantung.
Dari sisi teknikal, sinyal “kepanasan” terlihat jelas. RSI emas sempat menembus 90, sementara RSI perak berada di sekitar 84. Umumnya, RSI di atas 70 menandakan aset sudah terlalu banyak dibeli (overbought), sehingga wajar kalau pasar butuh jeda, konsolidasi, atau koreksi.
“Kelihatan momentumnya mulai melambat dan trader mengambil sebagian profit di area puncak,” kata Bart Melek, kepala strategi komoditas global di TD Securities. Artinya, koreksi ini lebih terlihat sebagai pendinginan setelah reli ekstrem, bukan berarti cerita besar emas langsung selesai.(alg)
Sumber: Newsmaker: id