Iran Ragukan Perundingan, Hormuz Kian Memanas dan Tekan Sentimen Global!
Iran menyatakan enggan mengirim diplomat ke Pakistan untuk putaran kedua perundingan damai setelah AS mempertahankan blokade Selat Hormuz dan menyita sebuah kapal Iran. Juru bicara Kemenlu Esmail Baghaei mengatakan Teheran belum berencana hadir, meski keputusan akhir belum diambil, sembari menilai ada indikasi “tidak ada keseriusan” dari pihak AS dalam mendorong diplomasi.
Pernyataan itu muncul setelah akhir pekan yang penuh eskalasi, memperbesar keraguan apakah kedua pihak akan bertemu sebelum gencatan senjata berakhir pada Selasa malam waktu AS. Perbedaan masih mencakup isu sensitif seperti program nuklir Iran dan kendali atas Hormuz, jalur kunci bagi pasokan energi global.
Dari Washington, Presiden Donald Trump menyebut utusan khusus Steve Witkoff akan menuju Pakistan untuk pembicaraan pada Selasa, namun di saat yang sama kembali mengeluarkan ancaman keras bila kesepakatan tak tercapai. Iran menolak narasi bahwa sudah menyetujui tuntutan utama AS, termasuk penghentian program nuklir dan penyerahan stok uranium yang diperkaya, serta menegaskan isu transfer material itu “tidak pernah dibahas” dalam putaran ini.
Di pasar, episode Hormuz kembali menjadi pusat transmisi ke aset risiko: penutupan efektif selat bagi banyak kapal memperparah krisis pasokan energi dan komoditas yang terbentuk sejak perang pecah akhir Februari. Minyak menguat sementara saham AS dan obligasi pemerintah melemah ketika investor beralih defensif; Brent disebut kembali mendekati $95 per barel, seiring meningkatnya premi risiko gangguan suplai.
Tekanan geopolitik juga memicu respons diplomatik yang lebih luas, termasuk seruan Presiden China Xi Jinping agar arus normal di Hormuz dipertahankan dan gencatan senjata komprehensif segera dilakukan. Dengan sekitar seperlima aliran minyak dan LNG global melewati Hormuz sebelum perang, pasar kini memantau tiga hal utama: status operasional selat dan blokade, kepastian jadwal perundingan di Islamabad, serta dinamika harga energi yang berpotensi menggeser ekspektasi inflasi dan kebijakan bank sentral. (gn)
Sumber: Newsmaker.id