ECB Tahan Suku Bunga, Inflasi Energi Jadi Ancaman
Bank Sentral Eropa mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan terbaru hari Kamis (23/7), dengan deposit rate tetap di level 2,25%. Keputusan ini sesuai ekspektasi pasar dan ekonom, serta disepakati secara bulat oleh para pembuat kebijakan.
Meski suku bunga ditahan, sinyal hawkish masih terasa kuat. Presiden ECB Christine Lagarde menyebut beberapa pejabat sempat membahas kemungkinan kenaikan bunga segera, bukan menunggu sampai September, untuk memastikan inflasi tetap terkendali.
ECB kembali menegaskan bahwa mereka tidak akan berkomitmen pada jalur kebijakan tertentu. Bank sentral akan mengambil keputusan dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya, sambil menilai perkembangan inflasi, energi, dan kondisi ekonomi zona euro.
Pasar obligasi relatif stabil setelah keputusan tersebut. Yield Bund Jerman tenor 10 tahun berada di sekitar 3,19%, setelah sebelumnya sempat menyentuh 3,21%, level tertinggi sejak 2011. Kenaikan yield dipicu kekhawatiran inflasi setelah harga minyak dan gas kembali melonjak.
Euro tetap melemah sekitar 0,2% terhadap dolar AS ke kisaran US$1,1390. Pasar swap masih memperkirakan kenaikan suku bunga 25 basis poin pada September hampir pasti terjadi, dengan peluang kenaikan tambahan lain sebelum akhir tahun juga semakin besar.
Dampaknya ke market, sikap ECB yang tetap hawkish dapat menahan pelemahan euro, tetapi kenaikan harga energi tetap menjadi risiko besar bagi ekonomi Eropa. Jika Brent mendekati US$100 dan inflasi kembali naik, ECB bisa terdorong menaikkan suku bunga lagi. Kondisi ini berpotensi menekan saham Eropa, mengangkat yield obligasi, dan membuat euro bergerak volatil terhadap dolar AS. (arl)
Sumber : Newsmaker.id