BoJ Waspada! Yen Rapuh Bisa Picu Hike Lebih Cepat
Bank of Japan (BoJ) disebut makin memberi perhatian besar pada pergerakan yen sebagai salah satu “pemicu” inflasi berikutnya. Setelah kemungkinan menahan suku bunga pada pertemuan pekan depan, pelemahan yen dinilai bisa mempercepat langkah BoJ untuk kembali menaikkan suku bunga di pertemuan-pertemuan berikutnya.
Sumber yang mengetahui pembahasan internal menyebut, pejabat BoJ melihat yen yang lemah kian terasa dampaknya karena perusahaan Jepang semakin berani meneruskan kenaikan biaya input ke harga jual. Artinya, depresiasi yen bukan cuma soal kurs, tetapi mulai menjadi jalur langsung yang mendorong tekanan harga di level konsumen.
Walau BoJ baru saja menaikkan suku bunga acuan bulan lalu dan belum mengunci “jadwal tetap” kenaikan berikutnya, yen yang terus rapuh disebut bisa membuat bank sentral lebih cepat bergerak dari perkiraan pasar. Konsensus ekonom swasta selama ini memperkirakan BoJ menaikkan suku bunga sekitar tiap enam bulan, yang menempatkan peluang kenaikan selanjutnya di kisaran musim panas.
BoJ dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan pada 23 Januari, dan pandangan yang berkembang saat ini adalah suku bunga akan dipertahankan di 0,75%, level tertinggi dalam beberapa dekade. Namun, keputusan final disebut tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi dan dinamika pasar menjelang hari-H.
Ke depan, fokus BoJ bukan hanya inflasi headline, tetapi juga inflasi inti serta ekspektasi harga dari rumah tangga dan pelaku usaha—terutama karena tren inflasi Jepang sudah semakin dekat ke target 2%. Sejumlah pejabat menilai BoJ masih memiliki ruang untuk melanjutkan normalisasi suku bunga, dengan penekanan pada timing yang tepat agar tidak terlambat merespons—terutama jika dampak negatif yen lemah semakin membesar bagi ekonomi. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id