Laut Merah Memanas, Minyak Kian Rawan
Presiden AS Donald Trump meredam peluang pembicaraan cepat dengan Iran di tengah meningkatnya serangan kedua negara dan ancaman baru dari kelompok Houthi di Yaman terhadap jalur pelayaran Laut Merah.
Trump mengatakan AS akan merespons jika kelompok yang didukung Iran itu mengganggu jalur pelayaran penting tersebut. Namun, ia tidak menjelaskan secara rinci bentuk respons yang akan diambil Washington.
Pernyataan itu muncul setelah gelombang serangan baru antara AS dan Iran, sementara mediator masih berupaya membuka kembali ruang negosiasi. Trump menegaskan AS tidak tertarik berdialog sampai Iran siap berbicara secara bermakna.
Teheran membantah klaim AS bahwa pihaknya sedang berupaya mencari pembicaraan baru. Di sisi lain, mediator masih mencoba menghidupkan kembali kesepakatan sementara 17 Juni, meski belum ada tanda kemajuan yang jelas.
Harga minyak ikut bergerak naik karena pasar khawatir jalur utama pasokan energi global semakin terancam. Brent naik mendekur utama pasokan energi global semakin terancam. Brent naik mendekati US$92 per barel, sementara harga minyak telah melonjak sekitar 20% sepanjang Juli sejak konflik kembali memanas.
Militer AS menyebut telah menyerang pusat komando militer Iran, lokasi peluncuran, dan sistem pertahanan udara. Iran membalas dengan menyerang fasilitas di Kuwait dan Yordania, sementara Inggris melaporkan serangan terhadap dua kapal di sekitar Selat Hormuz.
US Central Command juga menyatakan telah menyelesaikan serangan malam ke-11 berturut-turut terhadap Iran. Serangan itu disebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam kapal komersial di Selat Hormuz.
Ketegangan semakin meluas setelah Houthi mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi. Ancaman itu berisiko mengganggu ekspor jutaan barel minyak Saudi melalui Laut Merah, yang selama ini menjadi jalur penting untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz.
Arab Saudi menyatakan akan mengambil langkah yang diperlukan untuk melindungi kapal di kawasan tersebut sesuai hukum internasional. Sementara itu, Iran menegaskan tidak akan meninggalkan diplomasi, tetapi menolak dipaksa kembali ke meja perundingan selama masih diserang secara militer.
Dampaknya ke market, konflik AS-Iran dan ancaman Houthi dapat menjaga harga minyak tetap tinggi, terutama jika gangguan di Selat Hormuz dan Laut Merah berlanjut. Kenaikan minyak berisiko memicu inflasi, menekan sentimen pasar saham, menguatkan dolar AS melalui permintaan safe haven, dan membuat pergerakan emas semakin volatil karena pasar menimbang risiko perang dengan ekspektasi suku bunga tinggi. (asd)
Sumber: Newsmaker.id