Average Hourly Earnings Melambat
Data Average Hourly Earnings m/m Amerika Serikat mencatat kenaikan 0,2%, lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 0,3%. Angka ini sama dengan periode sebelumnya yang juga berada di level 0,2%, menandakan pertumbuhan upah pekerja AS masih stabil tetapi belum menunjukkan tekanan kenaikan yang lebih kuat.
Data upah ini menjadi perhatian penting bagi pasar karena berhubungan langsung dengan tekanan inflasi. Ketika pertumbuhan upah melambat atau lebih rendah dari ekspektasi, tekanan inflasi dari sisi pendapatan pekerja berpotensi ikut mereda. Hal ini bisa membuat pasar menilai bahwa The Fed memiliki ruang lebih besar untuk bersikap tidak terlalu agresif terhadap suku bunga.
Bagi dolar AS, data ini cenderung menjadi sentimen negatif karena kenaikan upah yang lebih rendah dari perkiraan dapat mengurangi ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan ketat lebih lama. Jika pasar melihat tekanan inflasi mulai melemah, dolar bisa kehilangan tenaga karena peluang pemangkasan suku bunga ke depan kembali terbuka.
Sementara itu, emas berpotensi mendapat dukungan dari data upah yang lebih lemah. Kenaikan Average Hourly Earnings yang hanya 0,2% dapat menekan dolar dan imbal hasil obligasi AS, sehingga membuat emas lebih menarik bagi investor. Namun, pergerakan emas tetap akan bergantung pada kombinasi data tenaga kerja lainnya, termasuk NFP dan tingkat pengangguran.
Dampak ke Dolar AS :
Dolar AS berpotensi melemah karena data upah lebih rendah dari ekspektasi. Angka 0,2% menunjukkan tekanan inflasi dari sisi upah tidak meningkat, sehingga pasar bisa menilai The Fed tidak perlu terlalu hawkish.
Dampak ke Emas :
Emas berpeluang menguat karena data upah yang lebih rendah dapat menekan dolar AS dan yield obligasi. Jika pasar membaca data ini sebagai sinyal inflasi mulai mereda, emas bisa mendapat dorongan tambahan sebagai aset yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga.(CP)
Sumber: Newsmaker.id