Reli AI Terhenti, Saham Asia Terkoreksi
Bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Kamis(6/8), setelah reli saham teknologi di Wall Street kehilangan momentum. Indeks MSCI Asia Pasifik turun sekitar 0,2%, sedangkan KOSPI Korea Selatan melemah 1% akibat aksi ambil untung pada saham-saham teknologi dan semikonduktor.
Tekanan muncul setelah S&P 500 mundur tipis dari rekor tertingginya dan indeks semikonduktor AS turun lebih dari 1%. SpaceX anjlok sekitar 14% karena pasar mencemaskan peningkatan belanja AI dan pelepasan saham dalam jumlah besar. Sentimen teknologi juga melemah setelah Sandisk turun 7,5% dan Western Digital merosot sekitar 11% dalam perdagangan setelah jam kerja.
Di pasar energi, WTI bergerak turun ke bawah US$75 per barel, sementara Brent bertahan di sekitar US$79. Tekanan muncul setelah Iran dan Oman mencapai kesepahaman mengenai jalur pelayaran sementara di Selat Hormuz. Namun, pembukaan penuh masih belum pasti karena biaya transit, pengawasan kapal, dan persetujuan Garda Revolusi Iran belum terselesaikan.
Penurunan minyak membantu meredakan kekhawatiran inflasi energi. Dolar AS tetap melemah, sementara emas bertahan di kisaran US$4.270 per troy ons setelah mencatat kenaikan harian terbesar sejak Februari. Kondisi ini menunjukkan pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga agresif, tetapi masih mencari perlindungan menjelang data NFP.
Sikap hawkish The Fed membatasi optimisme. Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari mendorong kenaikan bunga secara bertahap, sedangkan Gubernur Lisa Cook siap bertindak apabila inflasi tidak segera melandai. Lemahnya data ADP menunjukkan perekrutan melambat, tetapi tingginya tekanan harga sektor jasa membuat arah kebijakan The Fed tetap tidak pasti.
Analisis Newsmaker: Saham Asia berpotensi bergerak hati-hati karena investor mulai mengambil keuntungan dari reli AI. Penurunan minyak dan kemajuan diplomasi Hormuz menjadi sentimen positif bagi negara pengimpor energi, tetapi tekanan pada saham teknologi dapat menahan indeks regional. NFP yang lemah berpotensi menurunkan yield dan menopang saham serta emas, sedangkan data kuat—terutama disertai kenaikan upah—dapat menghidupkan kembali peluang kenaikan bunga dan memperpanjang koreksi saham teknologi.(gn)
Sumber: Newsmaker.id