Iran Balas Serangan AS di Teluk, Gencatan Senjata Terancam Runtuh
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam. Pasukan Iran melancarkan serangan terhadap infrastruktur militer AS di sejumlah negara Teluk pada Kamis (9/7), setelah Washington lebih dulu menyerang wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran. Eskalasi ini membuat perjanjian gencatan senjata yang baru berjalan sekitar tiga pekan kembali berada di bawah tekanan.
Serangan tersebut terjadi pada hari yang sama ketika Iran memakamkan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei di Mashhad. Prosesi pemakaman berlangsung di tengah gelombang duka nasional, dengan massa memenuhi jalanan sambil membawa bendera Iran, foto Khamenei, dan simbol-simbol revolusioner.
Korps Garda Revolusi Iran menuding serangan AS dan intervensi Washington dalam pengaturan pelayaran telah mengganggu proses pembukaan kembali Selat Hormuz. Teheran menyebut lalu lintas kapal di jalur tersebut baru pulih sekitar 50% dari level sebelum perang dalam dua pekan terakhir.
Iran menegaskan kapal hanya boleh melintas melalui rute yang telah ditentukan oleh Teheran. Garda Revolusi juga memperingatkan bahwa setiap intervensi lanjutan dari AS akan dibalas dengan respons keras.
Dari sisi Amerika Serikat, CENTCOM menyatakan serangan terbaru dilakukan untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka, setelah Washington menuding pasukan Iran menyerang tiga tanker di kawasan tersebut. Presiden AS Donald Trump juga menyebut serangan itu sebagai balasan atas pemboman kapal yang dituding dilakukan Iran.
Iran memang belum secara resmi mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal. Namun, sejumlah analis menilai Teheran kerap menggunakan tekanan di jalur energi sebagai alat tawar dalam negosiasi.
Serangan balasan Iran disebut menargetkan sistem Patriot AS di Kuwait, situs peringatan dini di Qatar, serta fasilitas penyimpanan bahan bakar militer AS di Bahrain. Kuwait melaporkan pihaknya menghadapi rudal jelajah, rudal balistik, dan drone di wilayah udaranya, dengan satu orang terluka akibat serpihan.
Ketegangan juga meluas ke Yordania. Sirene berbunyi setelah rudal dari Iran terdeteksi, sementara beberapa rudal berhasil dicegat tanpa laporan korban maupun kerusakan besar.
Di sisi lain, Qatar, Turki, dan Oman menyerukan agar eskalasi militer tidak berlanjut. Qatar mengecam serangan terhadap pelayaran komersial, tetapi juga mendorong semua pihak kembali ke jalur diplomasi.
Selat Hormuz menjadi fokus utama pasar karena jalur ini menangani sekitar seperlima pasokan minyak global sebelum perang. Jika jalur tersebut kembali terganggu, dampaknya bisa langsung terasa ke harga minyak, inflasi energi, dan sentimen aset berisiko.
Harga minyak sempat melonjak akibat kekhawatiran terhadap serangan baru di jalur pelayaran dan pasokan global. Namun, harga kemudian berbalik melemah pada Kamis karena investor menimbang apakah eskalasi ini hanya bersifat taktis sementara atau menjadi sinyal runtuhnya gencatan senjata secara penuh.
Trump sendiri mengatakan tidak memperkirakan situasi terbaru akan berubah menjadi perang besar dengan Iran. Namun, pernyataannya bahwa kesepakatan sementara dengan Iran sudah “berakhir” membuat pasar tetap berhati-hati.
Bagi market, konflik AS-Iran masih menjadi risiko besar. Jika serangan di kawasan Teluk berlanjut dan Selat Hormuz makin sulit dilalui, harga minyak berpotensi kembali melonjak. Kondisi ini bisa memperkuat kekhawatiran inflasi, mendukung dolar AS dan yield Treasury, tetapi menekan aset berisiko seperti saham, kripto, serta membatasi reli emas.(arl)
Sumber:: Newsmaker.id