Emas mulai mencari Arah, Minyak Mulai Pangkas Premi Perang
Harga emas bergerak terbatas di sekitar US$4.070 per troy ounce setelah sebelumnya melemah selama tiga hari beruntun. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar masih belum sepenuhnya yakin apakah ketegangan baru antara Amerika Serikat dan Iran akan berubah menjadi krisis besar atau hanya menjadi tekanan geopolitik sementara.
Eskalasi konflik kembali meningkat setelah AS melancarkan serangan ke Iran untuk hari kedua berturut-turut. Komando Pusat AS menyebut serangan itu bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz. Di sisi lain, Iran juga mengancam akan melakukan operasi balasan besar terhadap pangkalan AS di Timur Tengah.
Namun, respons pasar tidak bergerak satu arah. Emas mulai mendapat dukungan karena technical rebound. Ketiga, dolar AS tidak terlalu kuat. Kalau DXY cuma bergerak datar atau melemah tipis, emas punya ruang buat naik. Karena emas dihargai dalam dolar, ketika dolar tidak dominan, tekanan ke gold jadi lebih ringan.
Keempat, minyak yang mulai turun justru sedikit bantu emas
Sementara itu, minyak justru mulai memangkas sebagian kenaikannya setelah sebelumnya melonjak akibat fear factor. Harga minyak sempat terdorong oleh serangan AS ke Iran, risiko Selat Hormuz, dan ancaman gangguan pasokan energi. Namun, ketika Presiden Donald Trump memberi sinyal bahwa perang dengan Iran belum tentu dimulai kembali, sebagian pelaku pasar mulai melakukan aksi ambil untung.
Bagi emas, tekanan utama tetap datang dari risiko inflasi dan arah kebijakan The Fed. Jika harga minyak kembali melonjak, inflasi energi bisa meningkat dan membuat Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Risalah rapat The Fed bulan Juni juga menunjukkan beberapa pejabat sempat melihat alasan untuk menaikkan suku bunga, meski akhirnya tetap mendukung keputusan menahan suku bunga.
Ke depan, area US$4.070–US$4.050 menjadi zona penting bagi emas. Jika mampu bertahan, peluang rebound ke US$4.100–US$4.120 masih terbuka. Sementara untuk minyak, area Brent US$78–US$80 menjadi kunci. Jika gagal menembus US$80, harga berpotensi terkoreksi ke US$76–US$75. Namun, jika serangan baru terjadi atau Selat Hormuz makin terganggu, minyak bisa kembali naik cepat karena premi risiko perang belum sepenuhnya hilang.(asd)
Sumber: Newsmaker.id