• Wed, Mar 25, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

25 March 2026 02:12  |

AS Dorong Perundingan Damai dengan Iran, Sambil Mengirim Tambahan Pasukan ke Kawasan

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump dilaporkan bersiap menambah pasukan ke Timur Tengah, meski pada saat yang sama mendorong pembicaraan formal untuk mengakhiri konflik yang sudah memasuki hari ke-25 dan mengguncang pasar global. Menurut laporan, AS dan sejumlah mediator regional membahas kemungkinan menggelar perundingan tingkat tinggi dengan Iran secepat Kamis, namun masih menunggu respons Teheran.

Trump mengatakan ia menahan serangan AS ke situs energi dan memberi Iran waktu lima hari untuk mencapai kesepakatan. Namun, laporan terpisah menyebut Marinir AS sedang menuju kawasan dan Pentagon berencana mengirim brigade dari Divisi Lintas Udara 82—menambah spekulasi bahwa opsi operasi darat tetap disiapkan. Gedung Putih belum memberikan komentar atas laporan status perundingan maupun potensi penambahan pasukan.

Di lapangan, Iran dan Israel belum menunjukkan tanda mereda. Iran memutar balik kapal kontainer dari Selat Hormuz, sementara Israel melanjutkan serangan ke Iran. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan operasi akan berlanjut “dengan intensitas penuh.” Ketegangan ini menjaga risiko pasokan energi tetap tinggi; Brent kembali naik di atas $104 setelah sempat jatuh 11% pada Senin, dan sejumlah negara Teluk memberi sinyal bisa ikut kampanye AS–Israel bila Iran menyerang infrastruktur vital mereka.

Upaya diplomasi juga datang dari Pakistan. Pemerintah Pakistan menyatakan siap menjadi mediator, dan Trump disebut telah berbicara dengan Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir. Di sisi lain, India menekan pentingnya perdamaian dalam komunikasi dengan Trump, terutama terkait Selat Hormuz yang krusial bagi impor energi India. Laporan media juga menyebut dinamika lobi regional makin intens, sementara Iran disebut menghentikan ekspor gas ke Turki setelah serangan Israel ke ladang gas South Pars pekan lalu—menggarisbawahi risiko distribusi energi.

Meski pembicaraan damai disebut “bergerak,” klaim diplomasi di balik layar masih simpang siur dan sering dibantah pejabat Iran, sehingga menambah kebingungan pasar soal siapa saja yang terlibat dan seberapa dekat peluang kesepakatan. Indikasi awal menunjukkan negosiasi bisa alot, karena Iran sebelumnya menuntut reparasi dan jaminan tidak ada serangan lanjutan—tuntutan yang kecil kemungkinan diterima AS maupun Israel. Sementara itu, lalu lintas tanker di Hormuz masih nyaris berhenti dan konflik disebut telah menelan lebih dari 4.350 korban jiwa.(mrv)

Sumber : Newsmaker.id

Related News

GLOBAL

Mahkamah Agung Brasil Tanggapi Keras Ancaman Tarif Trump Ter...

Mahkamah Agung Brasil merespons keras ancaman tarif yang dilontarkan oleh Presiden AS Donald Trump terkait penyelidikan hukum...

21 July 2025 08:22
GLOBAL

Iran Balas Serangan AS, Tapi Pilih Jalur Diplomasi?

Iran meluncurkan rudal ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar pada Senin pagi sebagai balasan atas serangan udara Amerika Serik...

24 June 2025 07:49
GLOBAL

OPEC+ Meningkatkan Produksi, Namun Tanda Tanya Besar Masih A...

OPEC+ secara resmi menyelesaikan pemangkasan produksi minyak selama dua tahun dengan menyetujui peningkatan produksi final se...

4 August 2025 08:36
GLOBAL

Ancaman BRICS Belum Berakhir!

Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan mengenakan tarif 10% atas impor dari negara-negara anggota BRICS. Dalam komen...

21 July 2025 08:13
BIAS23.com NM23 Ai