AS Tegur Drills China di Taiwan
Amerika Serikat menyatakan latihan militer China di sekitar Taiwan telah “secara tidak perlu” meningkatkan ketegangan kawasan. Washington mendesak Beijing menghentikan tekanan militer terhadap Taiwan dan memilih jalur dialog, sambil menegaskan penolakan atas perubahan status quo melalui paksaan atau kekuatan.
Pernyataan itu muncul setelah Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) merampungkan rangkaian latihan yang mencakup area besar di sekitar Taiwan. Dalam latihan tersebut, PLA mensimulasikan skenario blokade selama dua hari disertai latihan tembakan langsung yang mengitari pulau.
China juga melakukan uji tembak proyektil jarak jauh ke wilayah Selat Taiwan, salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Walau intensitasnya disebut tidak setinggi latihan besar pada 2022, manuver ini tetap dipandang sebagai sinyal tegas dan peningkatan tekanan terhadap Taipei.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump sempat merespons santai dan menyebut latihan itu sebagai aktivitas yang sudah lama dilakukan China di wilayah tersebut. Komentar ini berbeda dengan sikap sejumlah negara demokrasi besar yang lebih cepat mengecam aksi Beijing dan menilai latihan itu berisiko memicu eskalasi.
Uni Eropa, Inggris, Prancis, Jerman, Australia, Selandia Baru, dan Jepang termasuk pihak yang menyampaikan keprihatinan. China menolak kritik tersebut dan menegaskan Taiwan adalah urusan internalnya, seraya menuding adanya “campur tangan eksternal” yang mendorong ketegangan.
Taiwan menyambut dukungan internasional dan menyatakan akan bekerja sama dengan AS serta negara-negara “sehaluan” untuk menjaga tatanan internasional berbasis aturan. Situasi ini terjadi di tengah dinamika hubungan AS–China yang belakangan relatif stabil, namun tetap rapuh karena isu keamanan, perdagangan, dan rantai pasok strategis.
Dampak ke pasar: Ketegangan geopolitik biasanya memicu mode “risk-off”, sehingga emas dan perak cenderung mendapat dorongan sebagai aset safe haven—meski kenaikannya bisa tertahan bila terjadi profit taking atau dolar menguat. Minyak berpotensi naik karena muncul “risk premium” terkait risiko gangguan jalur perdagangan di kawasan, namun pergerakannya tetap sangat dipengaruhi faktor fundamental seperti kebijakan OPEC+, persediaan, dan permintaan global.(asd)
Sumber: Newsmaker.id