Blokade AS ke Venezuela Memanas, Harga Komoditas Ganas!
Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela kembali naik karena isu utama yang sama: minyak. AS menekan pemerintah Presiden Nicolás Maduro lewat sanksi dan pengawasan ketat terhadap pengiriman minyak Venezuela yang dinilai melanggar aturan. Di tengah tekanan itu, jalur ekspor minyak Venezuela makin sering dikaitkan dengan kapal-kapal yang bergerak “abu-abu” atau sulit dilacak.
Situasinya mulai meledak ketika AS meningkatkan aksi di laut. Langkah ini bukan sekadar pernyataan politik, tapi masuk ke tahap penindakan terhadap kapal-kapal yang membawa minyak Venezuela. Dari sini, pasar mulai menangkap sinyal bahwa pengiriman minyak Venezuela bisa terganggu.
Dalam fase awal, AS melakukan penyitaan/penangkapan kapal tanker pertama. Kejadian ini jadi pemicu utama karena memberi pesan bahwa AS serius menutup jalur distribusi minyak yang dianggap melanggar sanksi. Efeknya cepat: risiko pengiriman naik, dan tekanan ke Venezuela makin terasa.
Setelah aksi pertama, dampak lanjutan muncul di jalur logistik. Sejumlah pengiriman dilaporkan tertahan atau berubah rute karena pelaku pasar mulai menilai kawasan itu semakin berisiko. Artinya, gangguan bukan hanya soal satu kapal, tetapi potensi meluas ke arus ekspor yang lebih besar.
Lalu AS memperkeras posisi dengan menyampaikan narasi “blokade” terhadap tanker minyak Venezuela yang masuk daftar sanksi. Pernyataan ini membuat situasi terlihat semakin tegas: AS ingin menutup ruang manuver, bukan hanya memberi peringatan.
Tidak lama kemudian terjadi operasi berikutnya, ketika aparat AS kembali melakukan intersep/boarding terhadap tanker lain di perairan dekat Venezuela. Di titik ini, tensi meningkat karena Venezuela menilai tindakan tersebut sebagai bentuk tekanan ekstrem, sementara AS melihatnya sebagai penegakan kebijakan sanksi.
Setelah itu, muncul kabar bahwa AS juga mengejar tanker lain lagi. Rangkaian operasi beruntun ini memperkuat kesan bahwa konflik sudah masuk babak “adu ketahanan” di jalur energi. Dampaknya ke pasar pun jelas: harga minyak jadi sensitif, dan aset safe haven seperti emas cenderung ikut diuntungkan saat risiko geopolitik meningkat.(asd)
Sumber: Newsmaker.id