Perak Bukan Lagi Bayangan Emas: Tahun 2025 Jadi Panggung Utama
Harga perak menunjukkan fundamental yang semakin kokoh di pertengahan 2025, didorong oleh defisit pasokan, lonjakan permintaan industri, dan minat investor terhadap aset safe haven. Kombinasi ini menjadikan perak sebagai salah satu logam mulia dengan prospek pertumbuhan paling menjanjikan tahun ini.
Tahun ini menjadi tahun kelima berturut-turut defisit pasokan perak secara global, dengan proyeksi kekurangan mencapai 117–149 juta ounce. Meskipun produksi tambang sedikit meningkat, pertumbuhannya belum mampu mengejar tingginya lonjakan permintaan.
Perak menjadi komponen penting dalam teknologi bersih dan energi masa depan. Kebutuhan untuk panel surya, kendaraan listrik, hingga perangkat elektronik mendorong konsumsi industri perak ke level rekor, diperkirakan mencapai 700 juta ounce pada 2025. Tren ini memperkuat posisi perak bukan hanya sebagai aset investasi, tetapi juga sebagai material strategis global.
Di tengah ketidakpastian geopolitik dan ancaman inflasi, perak kembali dilirik sebagai alternatif safe haven. Arus dana ke ETF perak meningkat, terutama di pasar AS dan India. Selain itu, minat investor ritel terhadap perak fisik juga melonjak, mencerminkan kepercayaan pasar terhadap daya tahan logam ini di tengah guncangan ekonomi.
Dengan kombinasi faktor positif tersebut, proyeksi harga perak akhir tahun berada di kisaran US$40–50 per ounce, dengan skenario optimis jangka panjang hingga US$77–100. Namun, investor perlu memperhatikan beberapa risiko utama seperti penguatan dolar AS, kebijakan suku bunga The Fed, serta potensi perlambatan global akibat perang dagang dan tensi geopolitik.
Sumber : (mrv@Newsmaker)