Prediksi OPEC+ Mulai Terjadi
Harga minyak nampaknya akan kembali menghadapi tantangan besar dan mulai mengikuti proyeksi dari OPEC+ di awal tahun bahwa untuk tahun ini akan mengalami penurunan. Setelah sempat mengalami sedikit kenaikan pasca perang tarif minyak kembali melemah.
Harga minyak mentah dibuka minggu ini dengan penurunan 4% setelah OPEC+ mengumumkan niatnya untuk meningkatkan produksi sebesar 411 ribu barel per hari mulai bulan Juni. Perubahan ini merupakan penghapusan bertahap pembatasan sukarela oleh produsen utama, termasuk Arab Saudi dan Rusia, yang sebelumnya berjumlah 2,2 juta barel per hari.
Keputusan yang mengejutkan pasar karena sebelumnya pasar memperkirakan hanya akan ada peningkatan sebesar 244 ribu barel. Lankah-langkah ini sebenarnya dilakukan oleh Arab Saudi terhadap hilangnya pangsa pasar akibat produksi yang dinaikkan oleh negara-negara diluar OPEC+.
Strategi Arab Saudi mengasumsikan harga minyak yang lebih rendah dalam beberapa bulan mendatang, yang hanya akan menguntungkan proyek-proyek yang paling berkelanjutan. Arab Saudi sudah menggunakan taktik serupa pada tahun 2014. Saat itu, seperti halnya sekarang, harga minyak anjlok akibat perlambatan permintaan akhir dan keinginan untuk meningkatkan produksi, serta tingginya aktivitas pengeboran di AS akibat revolusi serpih. Dari puncaknya pada Juli 2014, harga turun tiga perempat, mencapai titik terendah satu setengah tahun kemudian.
Minyak sudah pernah menghadapi gejolak harga seperti ini pada tahun 2020 ketika rekor produksi AS bertepatan dengan konflik pasokan antara Rusia dan Arab Saudi. Pandemi COVID-19 memperburuk aksi jual. Akibatnya, Brent telah kehilangan sekitar 72% dari puncaknya pada Januari 2020, dan harga berjangka WTI di dekatnya telah masuk ke wilayah negatif. Untuk tahun ini sendiri permintaan minyak diperkirakan juga akan mengalami penurunan dari negara-negara pengguna minyak terbesar seperti China serta produksi minyak yang meningkat dari OPEC+ serta Amerika yang akan membawa harga turun.
Source : (mrv@Newsmaker)