
Trending

Nikkei
Sumber: Newsmaker.id
Indeks Nikkei 225 Jepang menghadapi tekanan jual yang semakin besar pada perdagangan Jumat (6/11/2026), seiring berlanjutnya aksi pelepasan saham-saham teknologi yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI). Indeks utama Jepang tersebut berada di jalur menuju kondisi bear market secara teknikal setelah mengalami penurunan signifikan sejak akhir Juni. Nikkei kini berisiko mencatat pelemahan hingga 20% dari level tertingginya, yang menjadi batas umum untuk menentukan kondisi pasar bearish. Perkembangan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek sektor teknologi setelah reli panjang yang sebelumnya didorong oleh optimisme terhadap AI.
Tekanan terhadap Nikkei terutama berasal dari saham-saham teknologi dan semikonduktor yang mengalami aksi jual besar-besaran. Investor mulai mengurangi kepemilikan saham perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan pengembangan AI, menyusul meningkatnya ketidakpastian mengenai keberlanjutan investasi di sektor tersebut. Kondisi ini menyebabkan kesenjangan kinerja antara Nikkei yang memiliki eksposur besar terhadap saham teknologi dan indeks Topix yang mencakup sektor lebih luas semakin melebar, bahkan mencapai tingkat perbedaan terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Situasi tersebut menunjukkan bahwa tekanan pasar lebih terkonsentrasi pada sektor teknologi dibandingkan keseluruhan perekonomian Jepang.
Pelemahan pasar saham Jepang juga dipengaruhi oleh kejatuhan saham teknologi di Wall Street setelah hasil pemilu sela Amerika Serikat meningkatkan ekspektasi pengetatan regulasi industri AI. Kemenangan Partai Demokrat memunculkan kekhawatiran bahwa Kongres akan mendorong pengawasan lebih ketat terhadap pengembangan teknologi, khususnya investasi pusat data dan industri semikonduktor. Sentimen tersebut mempercepat aksi jual saham teknologi AS, dengan indeks Nasdaq 100 anjlok 6,4% dalam satu sesi perdagangan, mencatat penurunan terburuk sejak Maret 2020. Kejatuhan tersebut menghapus sekitar US$2,3 triliun kapitalisasi pasar, sementara indeks utama saham perusahaan semikonduktor merosot hingga 12%.
Besarnya tekanan jual pada saham AI menunjukkan bahwa investor mulai mengevaluasi kembali valuasi perusahaan teknologi yang sebelumnya meningkat tajam. Kekhawatiran terhadap perubahan regulasi, tingginya biaya pembangunan infrastruktur AI, serta kemungkinan perlambatan investasi menjadi faktor yang mendorong pergeseran sentimen pasar. Bagi Jepang, perkembangan ini memberikan risiko tambahan karena sejumlah perusahaan teknologi dan pemasok komponen semikonduktor memiliki hubungan erat dengan rantai pasok industri AI global. Apabila tekanan terhadap saham teknologi AS terus berlanjut, pasar saham Jepang berpotensi menghadapi volatilitas yang lebih tinggi, terutama pada perusahaan yang bergantung pada permintaan perangkat dan infrastruktur teknologi.