
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak kembali melemah pada perdagangan Jumat (28/8) dan berada di jalur mencatat penurunan mingguan. Brent turun 0,42% ke US$89,32 per barel, sementara WTI melemah 0,43% ke US$83,17. Sepanjang pekan, Brent telah turun sekitar 5,38% dan WTI melemah sekitar 4,47%.
Tekanan datang dari kombinasi ekspektasi kebijakan Federal Reserve yang lebih ketat dan meningkatnya peluang pembukaan kembali Selat Hormuz. Komentar Ketua The Fed Kevin Warsh yang membuka kemungkinan kenaikan suku bunga tahun ini memberi tekanan tambahan pada minyak karena suku bunga tinggi berpotensi memperlambat aktivitas ekonomi dan permintaan energi.
Di sisi geopolitik, pasar semakin memperhatikan bertambahnya aliran minyak melalui Hormuz. Koridor pelayaran Iran-Oman, klaim AS mengenai pembersihan ranjau, serta rumor kesepakatan baru untuk membuka jalur tersebut membuat investor mulai memangkas premi risiko yang sebelumnya menopang harga minyak.
Namun, pemulihan arus pelayaran masih belum stabil. Hanya tujuh kapal komoditas yang melintasi Hormuz pada Kamis, turun dari 17 kapal sehari sebelumnya dan masih di bawah rata-rata 10 hari sebanyak 15 kapal. Goldman Sachs memperkirakan ekspor Teluk saat ini sekitar 15–16 juta barel per hari, masih di bawah kondisi sebelum perang tetapi jauh membaik dibanding titik terendah pada Maret.
Di luar Hormuz, risiko pasokan belum sepenuhnya hilang. Serangan Ukraina terhadap kilang Rusia kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan produk olahan, sementara Washington juga dikabarkan tengah mengejar kesepakatan jangka panjang untuk memperoleh akses ke sebagian cadangan minyak Venezuela. Venezuela bahkan disebut mempertimbangkan keluar dari OPEC, yang dapat mengubah dinamika pasokan global.
Analisis Newsmaker: sentimen minyak saat ini masih cenderung bearish karena pasar semakin memperhitungkan normalisasi Hormuz dan tambahan pasokan dari kawasan Teluk. Namun, pergerakan masih sangat sensitif terhadap geopolitik. Jika kesepakatan pembukaan Hormuz benar-benar diumumkan, Brent berpotensi kembali mendapat tekanan. Sebaliknya, kegagalan negosiasi atau eskalasi baru di Rusia-Iran dapat memicu rebound tajam.(arl)
Sumber: Newsmaker.id