
Trending
Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas melemah tajam pada perdagangan Jumat (28/8) dan turun menuju US$4.560 per troy ons, level terendah dalam sekitar satu pekan. Tekanan muncul setelah pasar menilai pidato perdana Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Jackson Hole bernada lebih hawkish dari perkiraan.
Warsh menegaskan bahwa inflasi belum menunjukkan perlambatan yang cukup berarti dan The Fed masih membutuhkan bukti lebih kuat bahwa tekanan harga benar-benar turun. Ia memperingatkan bahwa jika proses tersebut tidak terlihat, bank sentral masih memiliki “pekerjaan yang harus dilakukan” untuk mengembalikan stabilitas harga.
Ketua The Fed juga kembali menegaskan bahwa target inflasi 2% tetap “kuat dan tetap”. Warsh menilai kondisi finansial saat ini belum cukup restriktif, sebuah pernyataan yang memperkuat pandangan bahwa ruang untuk pengetatan kebijakan masih terbuka apabila inflasi tetap tinggi.
Pidato tersebut memberikan kejelasan lebih besar terhadap arah kebijakan Warsh setelah sebelumnya pasar merugikan komunikasi The Fed yang relatif terbatas. Investor langsung menyesuaikan ekspektasi dan meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga September mendekati 50% berdasarkan CME FedWatch.
Naiknya peluang kenaikan suku bunga menjadi tekanan utama bagi emas karena suku bunga yang lebih tinggi cenderung mendorong imbal hasil dan dolar, sekaligus meningkatkan opportunity cost memegang emas batangan yang tidak memberikan bunga. Kondisi tersebut memicu aksi jual setelah emas sebelumnya sempat menikmati reli kuat dari pelemahan dolar dan turunnya imbal hasil Treasury.
Analisis Newsmaker: nada Warsh mengubah sentimen emas menjadi bearish jangka pendek. Area US$4.550–US$4.560 kini menjadi dukungan penting; jika tembus, koreksi berpotensi berlanjut ke area yang lebih rendah. Sebaliknya, emas membutuhkan pelemahan dolar atau penurunan kembali imbal hasil untuk memulihkan momentum. Selama pasar masih menaikkan suku bunga taruhan di bulan September, rebound emas berpotensi tetap terbatas.(yds)
Sumber: Newsmaker.id